Tampilkan postingan dengan label Islam Mancanegara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam Mancanegara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Desember 2009

"Gaza 2009" Menangkan Cairo International Film Festival 2009

Film berjudul "Gaza 2009" keluar sebagai pemenang pada Festival Film Internasional Kairo (Mahrajan al-Qahirah as-Sinima'i ad-Duwali/Cairo International Film Festival) 2009 yang digelar selama pekan terakhir bulan November kemarin.

Film produksi Syirkah Filasthin li al-Intaj al-I'lami (PMP), Gaza, itu keluar sebagai pemenang setelah menyisihkan 400 film Arab lainnya yang ikut serta dalam festival tersebut.

"Gaza 2009" merupakan film-romantika yang sarat akan pesan kemanusiaan. Kisahnya benar-benar menguras air mata dan menggugah emosi siapapun yang menontonnya. Betapa tidak, film tersebut menceritakan tentang potret kehidupan warga Palestina yang menyayat hati di bawah pendudukan Israel, khususnya di wilayah Jalur Gaza yang mengalami blokade selama beberapa tahun terakhir.

Di tengah kondisi yang mengenaskan itu, mencuatlah kisah cinta seorang pemuda-Muslim dari Gaza dengan seorang gadis-Yahudi dari Nazaret, Israel. Pemuda Gaza itu bekerja di Nazaret, dan di kota kelahiran Isa al-Masih itulah keduanya berkenalan dan saling memadu kasih. Keduanya pun lantas menikah, setelah si gadis memeluk Islam dan ikut suaminya ke Gaza yang nelangsa.

Tentu saja, sejuntai problem perbedaan dua identitas menjuntai dan menghiasi lika-liku kehidupan mereka pasca menikah, dan setelah mempunyai buah hati sebanyak enam anak. Sebagian dari anak-anak mereka, misalnya, justru bercakap dalam bahasa Ibrani, belajar Talmud dan Taurat di Israel.

Sutradara film, Musthafa an-Nabih, berwarganegara Palestina, menyatakan jika kisah film "Gaza 2009" sendiri diilhami dari kisah nyata. Dikatakannya, problem dan konflim mulai muncul dalam kehidupan dua sejoli itu setelah delapan tahun usia pernikahan mereka.

Problem tersebut berpangkal dari keadaan kehidupan di Gaza yang serba sulit pasca blokade Israel. Bisa dibayangkan, pasca blokade itu, Gaza benar-benar seperti wilayah purba: tak ada air bersih, bahan bakar, pasokan makanan, obat-obatan, dan listrik. Bisa dibayangkan betapa mengerikannya kehidupan di sana. Sang istri rupanya merasa tak kuasa hidup di tengah kondisi kehidupan yang benar-benar sengsara seperti itu.

Sang istri pun memutuskan untuk kembali ke Nazaret, kampung halaman asalnya. Ia pun kabur bersama tiga orang anaknya, sementara tiga anak lainnya tinggal bersama si bapak di Gaza. Dua dari tiga anak mereka yang kemudian hidup bersama bapaknya adalah si kembar-bungsu yang baru berusia 27 hari, salah satunya bahkan cacat.

Di Nazaret, si istri dan ketiga anak yang dibawanya, yang paling besar bernama Yasmin (9 tahun), dan menjadi salah satu tokoh utama di film tersebut, kembali memeluk agama Yahudi, sekaligus semua anaknya.

Penderitaan si lelaki tak hanya berhenti sampai di sana saja. Dinas intelejen Israel memaksanya untuk meninggalkan semua anaknya, untuk diboyong ke wilayah negeri itu dan menjadi warga negara Israel. Puncaknya, di hari terakhir penyerbuan Israel ke Gaza di awal tahun lalu, lelaki itu pun mati dirajam peluru dan roket pesawat Israel.

An-Nabih, sang sutradara, bercerita bahwa pasca berakhirnya agresi Israel ke Gaza di awal tahun yang lalu, pihaknya segera mengunjungi wilayah tersebut, untuk membuat film dokumenter. Saat itu, secara tak sengaja ia mendengar kisah Yasmin dan keluarga Gaza-Palestina dan Nazaret-Israel ini.

"Saat mengunjungi Gaza setelah agresi Israel berakhir, saya mendengar kisah Yasmin yang dibawa kabur oleh ibunya dari Gaza. Keluarga ini pun terpecah, menjadi keluarga Muslim dan Yahudi," kata an-Nabih.

Ditambahkan oleh seniman kenamaan Palestina itu, pesan utama dari film garapannya adalah nilai-nilai kemanusiaan. "Di film itu, kami ingin menyuguhkan kisah kemanusiaan, yang sangat nyata, dan sangat memukul. Betapa sebuah keluarga yang mulanya harmonis menjadi hancur dan menjadi terbelah," terang an-Nabih.

Sebelumnya, film "Gaza 2009" juga menjadi pemenang kategori film dokumenter pada Festival Film Arab yang digelar di Tunisia belum lama ini.

Untuk maklumat lebih jauh tentang film Gaza 2009, dapat diakses di situs produser film tersebut, yaitu www.pmptv.tv (ags)(eramuslim.com)

Read More......

Sabtu, 17 Oktober 2009

ADAMS Center, 25 Tahun Berdakwah dan Memberdayakan Komunitas Muslim


Di pinggiran kota Virginia yang tenang, berdiri sebuah gedung yang menjadi ikon tempat berkumpulnya komunitas Muslim dari berbagai bangsa, mulai dari Muslim Asia, Afrika, orang-orang Latin, Arab dan tentu saja Muslim Amerika. Di gedung itu pula berlangsung kegiatan dakwah dan pendidikan bagi komunitas Muslim Virginia.

Gedung tersebut adalah tempat bernaung organisasi All Dulles Area Muslim Society (ADAMS) Center. Tahun ini, 25 tahun sudah ADAMS berkiprah dalam aktivitas dakwah di AS, khususnya di wilayah Virginia. ADAMS didirikan oleh sejumlah keluarga Muslim yang sudah menetap di Virginia sekitar tiga dekade yang lalu.

"Mereka sadar bahwa mereka membutuhkan tempat bukan hanya untuk salat tapi juga untuk sekolah dan untuk keperluan komunitas Muslim lainnya," kata khalid Iqbal, deputi direktur ADAMS. . "Dan sekarang, kami menjadi salah satu Islamic Center terbesar di AS. Kami percaya adanya perbedaan, perbedaan gender dan etnis. Tapi kami juga meyakini bahwa agar bisa hidup harmonis, kita juga harus menghormati perbedaan agama," papar Iqbal.

Menurut para pengurus ADAMS, pertumbuhan komunitas Muslim yang begitu cepat selama beberapa tahun belakangan ini, menuntut mereka untuk mampu menyediakan apa yang dibutukan komunitas Muslim, mulai dari pelayanan urusan kelahiran sampai kematian. Sedikitnya, ADAMS melayani keperluan kurang lebih 7.000 keluarga Muslim di Virginia, wilayah di AS yang memiliki sekitar 350.000 Muslim yang berasal dari berbagai etnis dan latar belakang.

ADAMS menggelar berbagai program sebagai bagian dari pelayanannya bagi masyarakat. Misalnya, program untuk menangani masalah kekerasan dalam rumah tangga, pelayanan zakat dan program untuk membantu para mualaf yang disebut program New Muslim Support Network.

Tapi yang menjadi prioritas di ADAMS adalah layanan pendidikan. Lembaga ini sudah membuka sekolah Minggu untuk anak-anak usia 4-12 tahun. Sekarang, terdapat 520 siswa dan puluhan calon siswa masih harus masuk dalam daftar tunggu untuk bisa ikut serta dalam program sekolah Minggu.

Kepala sekolah Dr. Umaia Yussef mengatakan, sekolah itu bertujuan untuk membangun karakter islami pada anak-anak dan menanamkan kebanggaan pada identitas mereka sebagai Muslim. "Kami ingin mereka menjadi seorang Muslim yang baik dan berperilaku sesuai ajaran Islam," kata Dr. Yussef.

Di sekolah ini, para siswa belajar tentang Islam, Qur'an, hadist dan bahasa Arab. "Kami lebih menekankan pada kualitas dan bukan kuantitas. Konsentrasi kami bukan hanya pada aspek pendidikan saja, tapi juga aspek sosial. Mereka belajar dari aktivitas mereka sehari-hari," jelas Dr. Yussef.

Untuk orang dewasa, ADAMS juga menawarkan program pendidikan yang dilaksanakan setiap hari serta program belajar Al-Quran dan tafsir, sejarah dan pengetahuan lainnya.

Lebih dari itu semua, ADAMS Center juga berkomitmen untuk menyediakan program antar-agama. Menurut Iqbal, program itu penting untuk meningkatkan kerjasama dan menciptakan situasi yang harmonis dalam kehidupan antar umat beragama. Tak heran kalau setiap minggu, ADAMS Center ramai dikunjungi oleh Muslim dan non-Muslim yang ingin belajar tentang Muslim Amerika.

Bulan Ramadan menjadi moment yang dimanfaatkan ADAMS Center untuk meningkatkan persaudaraan dengan kalangan non-Muslim. Menjelang Ramadan, para pengurus ADAMS Center mengirikan surat ke semua orang yang isinya memberitahukan bahwa Ramadan akan datang dan mereka diharapkan datang atau berkunjung ke ADAMS Center.

Kegiatan lainnya yang cakupannya lebih luas adalah program Feed the Hungry. Program ini sebagai bentuk perhatian dan tanggung jawab mereka pada masyarakat yang kurang beruntung.

Secara keseluruhan, semua kegiatan pendidikan dan sosial yang dilakukan ADAMS Center bertujuan untuk meluruskan pandangan negatif tentang Islam dan Muslim di kalangan masyarakat Amerika. "Kami harus memainkan peran dalam mengubah stereotipe itu. Kita bukan ingin mengubah agama orang tapi kita memberikan mereka informasi," tukas Iqbal. (ln/iol).
sumber: eramuslim.com

Read More......

Senin, 07 September 2009

Bersyahadat Setelah 8 Tahun Baca al-Quran

Anne Collins ingin berhubungan langsung dengan Allah yang dapat memberikannya ampunan tanpa perantara. Itu setelah 8 tahun membaca Al Quran

Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga Kristen yang taat. Saat itu, orang Amerika lebih religius dibandingkan masa sekarang–contohnya, sebagian besar keluarga pergi ke gereja setiap Minggu. Orangtua saya ikut dalam komunitas gereja. Kami sering mendatangkan pendeta ke rumah. Ibu saya mengajar di sekolah minggu, dan saya membantunya


Pastinya saya lebih relijius dibandingkan anak-anak lainnya, meskipun saya tidak merasa seperti itu dulu. Satu saat ketika ulang tahun bibi saya memberi hadiah sebuah Bibel, dan untuk saudara perempuan saya ia memberi sebuah boneka. Lain waktu saya minta dibelikan bukudoa kepada orang tua, dan saya membacanya setiap hari selama beberapa tahun.

Ketika saya SMP, saya mengikuti program belajar Bibel selama dua tahun. Ketika itu saya sudah mengkaji sebagian dari Bibel, meskipun demikian saya belum memahaminya dengan baik. Kemudian saya mendapat kesempatan mempelajarinya lebih dalam. Sayangnya, kami belajar banyak petikan di dalam Perjanjian Lama dan Baru yang tak dapat dipahami, bahkan terasa aneh.

Sebagai contoh, Bibel mengajarkan tentang adanya dosa awal, yang artinya semua manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa. Saya punya adik bayi, dan saya tahu ia tidak berdosa.

Bibel mengandung banyak cerita aneh dan sangat meresahkan, misalnya cerita tentang nabi Ibrahim dan Daud. Saya tak dapat mengerti bagaimana mungkin para nabi bisa mempunyai kelakuan seperti yang diceritakan dalam Bibel.

Ada banyak hal lain dalam Bibel yang membingungkan saya, tapi saya tidak mempertanyakannya. Saya terlalu takut untuk bertanya–saya ingin dikenal sebagai “gadis baik”.

Alhamdulillah, akhirnya ada seorang anak laki-laki yang bertanya, dan ia terus bertanya.

Hal yang paling penting adalah tentang trinitas. Saya tidak bisa memahaminya. Bagaimana bisa Tuhan terdiri dari tiga bagian, yang salah satunya adalah manusia? Di sekolah saya juga belajar mitologi Yunani dan Romawi, menurut saya pemikiran tentang trinitas dan orang suci yang punya kekuatan sama dengan pemikiran budaya Yunani dan Romawi yang mengenal banyak dewa, yang masing-masing bertanggung jawab atas aspek kehidupan yang berbeda (astagfirullah!). Bocah yang bertanya itu, banyak bertanya tentang trinitas. Ia mendapatkan banyak jawaban tapi tidak pernah puas. Sama seperti saya. Akhirnya guru kami, seorang profesor teologi dari Universitas Michigan, menyuruhnya untuk berdoa minta keteguhan iman. Saya pun berdoa.

Ketika saya SMA saya, diam-diam saya ingin menjadi seorang biarawati. Saya tertarik untuk melakukan peribadatan setiap harinya, tertarik kehidupan yang sepenuhnya dipersembahkan untuk Tuhan, dan menunjukkan sebuah gaya hidup yang relijius. Halangan atas ambisi ini hanya satu: saya bukan seorang Katolik. Saya tinggal di sebuah kota di wilayah Midwestern, di mana Katolik merupakan minoritas yang tidak populer.

Saya bertemu seorang Muslim dari Libya. Ia menceritakan saya sedikit tentang Islam dan Al-Quran. Ia bilang Islam itu modern, agama samawi yang paling up-to-date. Karena saya menganggap Afrika dan Timur Tengah itu terbelakang, maka saya tidk bisa melihat Islam sebagai sesuatu yang modern.

Keluarga saya mengajaknya ke acara Natal di gereja. Bagi saya acara itu sangat menyentuh dan berkesan. Tapi diakhir acara ia bertanya, “Siapa yang membuat aturan peribadatan seperti itu? Siapa yang mengajarkanmu kapan harus berdiri, membungkuk dan berlutut? Siapa yang mengajarimu cara beribadah?” Saya menceritakan kepadanya sejarah awal gereja. Awalnya pertanyaannya itu sangat membuat saya marah, tapi kemudian saya jadi berpikir. Apakah orang-orang yang membuat tata cara peribadatan itu benar-benar punya kualifikasi untuk melakukannya? Bagaimana mereka bisa tahu bagaimana peribdatan itu harus dilakukan? Apakah mereka dapat wahyu tentang itu?

Saya sadar jika saya tidak mempercayai banyak ajaran Kristen, namun saya tetap pergi ke gereja. Ketika kredo Nicene dibacakan bersama-sama, saya hanya diam, saya tidak turut membacanya. Saya seperti orang asing di gereja.

Ada kejadian yang sangat mengejutkan. Seseorang yang sangat dekat dengan saya mengalami masalah dalam rumah tangganya. Ia pergi ke gereja untuk meminta nasihat. Orang dari gereja itu justru memanfaatkan kesusahan dan penderitaannya. Laki-laki itu mengajaknya ke sebuah motel dan kemudian merayunya.

Sebelumnya saya tidak memperhatikan benar apa peran rahib dalam gereja. Sejak peristiwa itu saya jadi memperhatikannya. Sebagian besar umat Kristen percaya bahwa pengampunan lewat sebuah acara peribadatan suci yang harus dipimpin oleh seorang pendeta. Tidak ada pendeta, tidak ada pengampunan.

Saya mengunjungi gereja, duduk dan memperhatikan pendeta yang ada di depan. Mereka tidak lebih baik dari umat yang datang–sebagian di antaranya bahkan lebih buruk. Jadi bagaiamana bisa seorang manusia biasa diperlukan sebagai perantara untuk berkomunikasi dengan Tuhan? Mengapa saya tidak bisa berhubungan langsung dengan Tuhan, dan langsung menerima pengampunannya?

Tak lama setelah itu, saya mendapati terjemahan Al-Qur’an di sebuah toko buku. Saya lalu membeli dan membacanya, kadang terus membaca, kadang terputus, selama delapan tahun. Selama itu saya juga mencari tahu tentang agama lain.

Saya semakin khawatir dan takut dengan dosa-dosa saya. Bagaimana saya tahu Tuhan akan memafkan dosa-dosa saya? Saya tidak lagi percaya dengan metode pengampunan ala Kristen akan berhasil. Beban-beban dosa begitu berat bagi saya, dan saya tidak tahu bagaimana membebaskan diri darinya. Saya sangat mengharapkan ampunan.

Membaca Al-Quran

Suatu kali, aku membaca Al-Quran yang bunyinya: “Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriiman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu ada rahib-rahib, juga sesungghnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Quran dan kenabian Muhammad S.A.W). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh? [Al-Maidah: 82-84]

Saya mulai berharap bahwa Islam mempunyai jawabannya. Tapi bagaimana cara saya mencari tahu? Dalam berita di televisi saya melihat Muslim beribadat. Mereka punya cara tertentu untuk berdo’a. Saya menemukan sebuah buku–yang ditulis oleh non Muslim–yang menjelaskan cara beribadah orang Islam. Kemudian saya mencoba melakukannya sendiri. Kala itu saya tidak tahu tentang taharah dan saya shalat dengan cara yang keliru. Saya terus berdoa dengan cara itu selama beberapa tahun.

Akhirnya kira-kira 8 tahun sejak pertama kali saya membeli terjemahan Al-Quran dulu, saya membaca: “Pada hari ini telah ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” [Al- Maidah: 3]

Saya menangis bahagia, karena saya tahu, jauh sebelum bumi diciptakan, Allah telah menuliskan bahwa Al-Quran ini untuk saya. Allah mengetahui bahwa Anne Collins di Cheektowaga, New York, AS, akan membaca ayat ini pada bulan Mei 1986.

Saya tahu banyak hal yang perlu dipelajari, seperti bagaimana cara shalat yang benar, sesuatu yang tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Quran. Masalahnya saya tidak kenal seorang Muslim satu pun.

Sekarang ini Muslim relatif mudah dijumpai di AS. Dulu saya tidak tahu di mana bisa bertemu mereka. Saya mendapatkan nomor telepon sebuah komunitas Muslim dari buku telepon. Saya lalu coba menghubunginya. Seorang laki-laki menjawab diseberang sana, saya panik lalu mematikan telepon. Apa yang akan saya katakan padanya? Bagaimana mereka akan menjawab pertanyaan saya? Apakah mereka akan curiga? Akankah mereka menerima saya, sementara mereka sudah saling memiliki dalam Islam?

Beberapa bulan kemudian saya kembali menelepon masjid itu berkali-kali. Dan setiap kali saya panik, saya menutupnya. Akhirnya, saya menulis sebuah surat, isinya memnta informasi. Seorang ikhwan dari masjid itu menelepon saya dan kemudian mengirimi saya selebaran tentang Islam. Saya katakan padanya bahwa saya ingin masuk Islam. Tapi ia berkata pada saya, “Tunggu hingga kamu yakin.” Jawabannya agar saya menunggu membuat saya kesal. Tapi saya sadar, ia benar. Saya harus yakin, sebab sekali menerima Islam, maka segala sesuatunya tidak akan pernah lagi sama.

Saya jadi terobsesi dengan Islam. Saya memikirkannya siang dan malam. Dalam beberapa kesempatan, saya mengendarai mobil menuju ke masjid (saat itu masjidnya berupa sebuah rumah yang dialihfungsikan menjadi masjid). Saya berputar mengelilinginya beberapa kali sambil berharap akan melihat seorang Muslim, dan penasaran seperti apa keadaan di dalam masjid itu.

Satu hari di awal Nopember 1986, ketika saya memasak di dapur, sekonyong-konyong saya merasa jika saya sudah menjadi seorang Muslim. Masih takut-takut, saya mengirim surat lagi ke masjid itu. Saya menulis: Saya percaya pada Allah, Allah yang Maha Esa, saya percaya bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, dan saya ingin tercatat sebagai orang yang bersaksi atasnya.

Ikhwan dari masjid itu menelepon saya keesokan harinya, dan saya mengucapkan shahadat melalui telepon itu. Ia berkata bahwa Allah telah mengampuni semua dosa saya saat itu juga, dan saya seperti layaknya seorang bayi yang baru lahir.

Saya merasa beban dosa-dosa menyingkir dari pundak. Dan saya menangis karena bahagia. Saya hanya sedikit tidur malam itu. Saya menangis, mengulang-ulang menyebut nama Allah. Ampunan yang saya cari telah didapat. Alhamdulillah. [di/iol/www.hidayatullah.com]

Read More......

Senin, 31 Agustus 2009

Ramadhan, Pemuda Muslim Perancis Jadi Alim

PARIS--selama 11 bulan dalam setahun, remaja Muslim Perancis, bisa jadi merokok ganja, menenggak alkohol atau terlibat dalam perilaku tak bermoral lain. Namun begitu Ramadhan tiba, pemuda muslim Perancis yang masih doyan melakukan hal-hal tersebut pun merasa memiliki bulan suci tersebut.

"Coba lihat anak-anak muda itu, mereka menggunakan narkoba, minum alkohol dan hampir setiap tahun berbicara dalam bahasa kasar," ujar seorang aktivis Muslim di Paris utara, Rachid Abu Zareaah, mengacu pada kelompok pemuda Muslim di suburb, Quatre Vents. "Namun begitu Ramadhan tiba, mereka menjadi malaikat," imbuh Rachid.

Di penjuru negara Eropa banyak pemuda Muslim Perancis meninggalkan perbuatan maksiat dan menyatakan perang terhadap perbuatan dosa dan godaan selama Ramadhan. Di Perancis sendiri, puasa dimulai pada 22 Agustus lalu.

Rachid mengatakan selama Ramadhan, pemuda Muslim mengubah perilaku buruk mereka dan benar-benar sadar menahan diri. "Mereka secara drastis berubah menjadi asketik dalam kesucian Ramadhan,"

"Bahkan para pengeder narkoba menjauhi aktivitas tersebut dan berganti berjualan parfum atau ornamen islami," tutur Rachid. "Kata-kata kasar juga hilang. Alih-alih anda hanya dapat mendengar mereka berdoa, memuji dan berdoa mohon ampunan pada Allah,"

Sejumlah survei baru-baru ini juga membenarkan pengaruh Ramadhan terhadap pemuda Muslim Perancis. Dalam sebuah studi terbaru dari pusat CSA, mengatakan lebih dari 90 persen pemuda Muslim di atas 18 tahun menjalankan kewajiban puasa. Pusat studi IFOP juga menyatakan dalam sebuah laporan bahwa 70 persen pemuda Muslim berpuasa saat Ramadhan.

Para pemuka Muslim di negara itu juga mengamini bahwa fenomena penghormatan terhadap Ramadhan karena pemuda masih memiliki akar Muslim. "Memenuhi kewajiban Ramadan memberi pemuda Muslim perasaan memiliki yang mereka butuhkan," ujar kepala Dewan Muslim Perancis (FCMC), Mohammed Mousawi.

"Itu membuat mereka merasa bahwa mereka memiliki latar belakang berbeda, akar berbeda dari semua masyarakat Perancis," ujarnya. Mousawi mengatakan pemuda Muslim Perancis pun menderita hal sama dalam krisis kebudayaan, sosial dan ekonomi seperti yang dialami kaum muda Barat.

"Namun pada saat Ramadhan, umat Muslim menyadari bahwa ada perbedaan antara mereka dan pemuda Perancis lain," ujarnya. "Mereka beralih ke identitas berbeda, meskipun hanya sebulan dalam setahun,"

sumber: Republika.co.id

Read More......

Senin, 17 Agustus 2009

Jilbab Bukan Sekedar Simbol



NEW JERSEY--Rowaida Abdulaziz, 17 tahun, merasa mendapat berkah dengan mengenakan jilbab dan melihat pakaian sederhana yang menutupi rambut dan tubuhnya sebagai sumber kebebasan.

"Saya benar-benar merasa nyaman," kata Rowaida yang merupakan siswi SMA di New Jersey kepada CNN Rabu (12/8), kemarin, seperti dilansir Islamonline.net.

Wanita berdarah asli Mesir ini secara sukarela memilih untuk mengenakan jilbab. "Ibu saya mengatakan bahwa seorang gadis itu ibarat permata. Ketika anda memiliki sesuatu yang sangat berharga, maka Anda akan menyembunyikannya. Anda pasti ingin memastikan benda berharga milik Anda tersebut aman sampai harta tersebut telah siap untuk ditemukan."

Rowaida yakin jilbab telah membawa dimensi yang indah dalam kehidupannya. "Ketika Anda memutuskan untuk mengenakannya, hal itu akan membuka mata Anda. Dan akan membuat anda ingin mengeksplorasi keyakinan beragama Anda," kata dia dengan antusias. "Saya dulu merasa seperti ada sesuatu yang kurang dan sekarang saya telah lengkap sepenuhnya."

Hal senada disampaikan Sarah Hekmati yang pertama kali menggunakan Jilbab pada umur 15 tahun serta besar di Detroit, Michigan. Dia mengatakan bahwa keputusan menggunakan Jilbab telah membebaskan dirinya.

Sementara remaja seusianya sedang berjuang dalam kondisi yang kritis dalam kehidupan mereka, dia telah menemukan jati dirinya sebagai seorang Muslimah. "Jilbab telah memberi saya sebuah identitas," kata Sarah perempuan berdarah Iran.

"Saya sangat menyukai tujuan di balik penggunaan Jilbab--pakaian yang menutup seluruh tubuh wanita sehingga laki-laki akan mengenali dirinya dari cara berpikirnya bukan dari tubuhnya."

Islam memandang Jilbab sebagai pakaian yang wajib dikenakan wanita, bukan sekedar memamerkan simbol agama yang sesorang anut.

Mitos dalam Memakai Jilbab
Namun terkadang Jilbab menyebabkan para Muslimah yang mengenakannya menjadi pusat perhatian.
"Anda kadang-kadang seperti berada di kebun binatang: terkurung dalam kandang, dan orang lain memandang dengan penuh stereotip, prasangka dan anggapan pada sebuah parade untuk di analisa, dihancurkan dan dibangun kembali," kata Randa Abdul Fatah, Muslimah kelahiran Australia dari orangtua keturunan Palestina dan Mesir.
Sarah, Muslimah Detroit, mengatakan terkadang dirinya mendapat tatapan sinis dan penuh kemarahan dari orang-orang yang memandang dirinya seakan-akan seorang teroris. Yang lain memandang dengan penuh keheranan dan bertanya kepadanya mengapa dirinya menutup rambutnya. "Satu orang bertanya kepada saya, apakah saya alergi terhadap matahari?" imbuh Sarah.
Rowaida, Siswi SMA New Jersey, juga memiliki mitos masyarakat terhadap jilbab yang dia kenakan. Namun dia mengatakan yang paling menjengkelkan dari stereotip tersebut adalah ketika masyarakat berasumsi bahwa orangtuanya menekan dia untuk menggunakan Jilbab.
"Ini bukan penindasan, ini bukan berarti saya menyetujui degradasi--ini semua tentang kepedulian terhadap diri sendiri," jawan dia selalu terhadap pertanyaan mereka. "Ini melambangkan kecantikan bagi saya." imbuh dia. iol/taq

Sumber : http://republika.co.id/

Read More......