
Kegiatan ini dijadwalkan akan berlangsung setiap tahun sehingga kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam sebagai bagian dari kejayaan Islam bangkit kembali
Hidayatullah.com--Festival beduk akan meramaikan peringatan tahun baru Islam atau 1 Muharam 1431 Hijriyah yang diselenggarakan Pemkot Palembang bekerjasama dengan Forum Umat Islam (FUI) Sumatra Selatan.
Kepala Bagian Humas Pemkot Palembang, Aminoto mengatakan di Palembang, Rabu (16/12). Menurutnya, peringatan tahun baru hijriyah kali ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang diramaikan pawai mobil hias.
Tahun ini bukan hanya festival beduk yang memeriahkan peringatan tahun baru itu, tetapi juga diramaikan pawai ormas Islam se-Kota Palembang, katanya.
Menurut dia, festival beduk akan diselenggarakan di halaman Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) pukul 15.00 WIB yang diikuti sebanyak 214 peserta dari perwakilan ormas Islam dan kelurahan di daerah tersebut.
Festival beduk tersebut memukul beduk secara serentak dengan irama takbir yang dipastikan akan sangat menarik dan menghibur serta religius, tambahnya.
Ia mengatakan, peringatan tahun baru Islam mesti sederhana diharapkan mampu memiliki arti yang mendalam bagi warga Kota Palembang terutama bagi umat Islam.
Apalagi perayaan tahun baru hijriyah juga akan diramaikan pawai diikuti sekitar 10 ribu peserta yang bergerak dari Gedung Olahraga Palembang (GOR) melewati Jalan Kapten A Rivai, Sudirman menuju Jalan Merdeka di Monpera tepat seberang Mesjid Agung Palembang lokasi penyelenggaraan festival beduk, katanya.
Dia menjelaskan, kegiatan tersebut diharapkan juga menjadi momentum bagi wisatawan datang ke Kota Palembang guna mengikuti kegiatan wisata religi.
Karena selain pawai dan festival beduk juga akan dirangkai dengan kegiatan takbir akbar di Mesjid Agung Palembang dengan mendatangkan penceramah dari Turki, ujarnya.
Aminoto menambahkan, kegiatan ini dijadwalkan akan berlangsung setiap tahun sehingga kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam sebagai bagian dari kejayaan Islam bangkit kembali.
Dengan demikian umat Islam di Palembang akan semakin mengingat arti pentingnya tahun baru hijriyah, tambah dia. [ant/www.hidayatullah.com]
Sabtu, 19 Desember 2009
Festival Beduk Ramaikan Tahun Baru Islam
Senin, 17 Agustus 2009
RS Indonesia di Gaza Bantu Diplomasi Perdamaian

Jakarta - Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina yang digagas antara rakyat dan pemerintah Indonesia, kini tengah dimatangkan persiapan peletakan batu pertama pembangunannya dinilai akan membantu upaya-upaya diplomasi perdamaian.
Benang merah itu, seperti dilaporkan ANTARA, terangkum dalam pertemuan yang dilaksanakan berbagai pihak terkait di Jakarta, Kamis, yang diprakarsai oleh Pusat Pengendalian Krisis Departemen Kesehatan (Depkes).
Pertemuan itu diikuti oleh Kepala PPK Depkes dr Rustam S Pakaya beserta jajarannya, Direktur Timur Tengah Departemen Luar Negeri (Deplu) Aidil Chandra Salim, dr Joserizal Jurnalis, SpOT dan Ir Faried Thalib dari "Medical Emergency Rescue Committee" (MER-C) Indonesia, serta Deputi Mensesneg Bidang Dukungan Kebijakan Ibnu Purna Muchtar, SE, MA.
Menurut Joserizal Jurnalis, bantuan kesehatan berbentuk RS, terlebih dengan nama RS Indonesia, jelas mempunyai risiko politik yang lebih kecil dibandingkan dengan bantuan wujud lain, terlebih bila dikaitkan dengan konteks politik, dimana Israel sebagai pihak yang menduduki Jalur Gaza selalu mengontrol dengan ketat bantuan-bantuan yang ada.
"Bila bantuan berupa uang tunai secara langsung ataupun bahkan obat-obatan dalam jumlah besar, kemungkinan tingkat kecurigaan (Israel) bahwa bantuan itu akan disalahgunakan lebih besar," katanya.
Ia memberi rujukan bahwa Uni-Eropa sudah mampu mewujudkan bantuan pembangunan RS di Jalur Gaza, sehingga hal itu menjadi penguat bahwa RS Indonesia yang akan dibangun diyakini juga bisa dilaksanakan.
Sementara itu, Aidil Chandra Salim --dengan merujuk laporan dari Kedubes Indonesia di Kairo, laporan media massa dan juga hasil pertemuan dengan Dubes Mesir untuk Indonesia--memberikan gambaran bahwa satu-satunya pintu perbatasan dimana akses orang dan barang bisa masuk tanpa kehadiran fisik pasukan Israel memang hanya di Rafah, yang terbagi atas Rafah Mesir dan Rafah Jalur Gaza.
Hanya saja, kata dia, meski di Rafah pihak yang berwenang untuk membuka dan menutup pintu perbatasan adalah Mesir dan Palestina, namun karena Jalur Gaza adalah wilayah yang diblokade Israel, maka tekanan-tekanan Israel juga masih berpengaruh.
"Kondisi itulah yang mungkin menjadi hambatan lalu-lintas masuknya barang untuk membangun rumah sakit itu," katanya.
sumber: www.sabili.co.id