Tampilkan postingan dengan label taujih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taujih. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Desember 2009

Menyikapi Tahun Baru Hijriyah


pesantrenvirtual.com Didalam tahun baru hijriah ini selayaknya, kita sebagai muslim yang taat, mengintrospeksi diri dengan semua apa-apa yang telah kita perbuat. Dan memilih semua bentuk amalan yang baik untuk tetap kita pertahankan dan kita tingkatkan porsi amalan yang baik untuk kita kerjakan. Dan meninggalakan semua perbuatan yang tidak bermanfaat, baik untuk diri kita ataupun orang sekitar kita.
Sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru hijriah, tepatnya kita akan memasuki bulan muharram. Yang berarti kita akan meninggalkan tahun lalu, dan memasuki tahun baru hijriah, yakni tahun baru 1425 hijriah. Adalah tahun baru hijriah, yang mana penyambutan tahun baru ini tidak selayaknya seperti orang-orang non muslim merayakan tahun baru miladiyahnya.

Didalam tahun baru hijriah ini selayaknya, kita sebagai muslim yang taat, mengintrospeksi diri dengan semua apa-apa yang telah kita perbuat. Dan memilih semua bentuk amalan yang baik untuk tetap kita pertahankan dan kita tingkatkan porsi amalan yang baik untuk kita kerjakan. Dan meninggalakan semua perbuatan yang tidak bermanfaat, baik untuk diri kita ataupun orang sekitar kita.
Didalam tahun baru ini, kita senantiasa berusaha untu menjadi hamba Allah SWT yang taat akan perintahnya, dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhi segala larangannya. Dan bukanlah Allah SWT telah berfirman bahwa manusia adalah hambanya yang memiliki tugas untuk beribadah. Kalaulah ditahun-tahun lalu kita masih sering melakukan berbagai kekurangan, maka marilah kita kejar kekurangan-kekurangan itu dengan semangat memperbaiki diri menuju kesempurnaan, baik itu dalam beribadah, bekerja, bermasyarakat, dan berkreasi.
Dan jika dimasa-masa lalu masih banyak berbagai kemaksiatan yang kita lakukan, maka marilah kita ganti kemaksiatan itu dengan semangat memprbanyak amalan-amalan saleh. Kapan lagi kita memperbaiki diri, kalau bukan dimulai dari sekarang? Dan pantaskah kita menundanya? Padahal kita tidak tahu kapan kehidpan didunia ini berakhir?. Dan juga ingatlah!.......bahwa Allah SWT tidak menjadikan kehidupan didunia ini abadi, firmannya dalam alqur’an, surat al-anbya 34-35 : Artinya : Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu Muhammad, maka jika kalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap bernyawa akan merasakan mati, kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kepada kamilah kamu sekalian dikembalikan. Ayat diatas sungguh sangat jelas menerangkan, bahwa kehidupan didunia ini tidak kekal, dan semua yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.
Jika demikian untuk apalagi kita berlama-lama dalam kubangan kemaksiatan, dan untuk apalagi kita menunggu hari esok untuk berbuat amalan soleh. Dan bukankah kita sudah tahu bahwa ajal manusia adalah rahasia Allah SWT semata. Firmannya dalam al-Qur’an menyatakan: Artinya : “Tiap-tiap umat memiliki batasan waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak akan mengundurkannya barang sesaatpun, dan tidak dapat pula memajukannya�. Dengan ayat ini kita dapat memahami bahwa umur kita akan terus berjalan seiring jarum jam berputar, dan “kesempatan� tidak akan pernah mengiringi putaran jarum jam, dan yang pasti “kesempatan itu� tidak akan pernah ada untuk kedua kalinya. Ini berarti umur kita bukannya semakin bertambah, tetapi sebaliknya dari tahun ketahun umur kita semakin berkurang.
Oleh sebab itu marilah kita isi hidup kta ini dengan memperbanyak amalan soleh, belajar dengan giat, bekerja dengan ikhlas, dan beribadah dengan hanya mengharap ridho Allah SWT semata. Sekarang kita masih hidup, tetapi siapa tahu beso pagi kita akan mati. Sekarang kita masih dapat menikmati tahun baru hijriah, tetapi siapa tahu tahun depan kita akan mati.
Adalah satu riwayat yang menceritakan tentang anak Umar bin khotob, kembali pulang dari sekolahnya sambil menghitung tambalan-tambalan yang melekat dibajunya yang sudah usang dan jelek. Dengan rasa kasihan umar sang Amirul mu’minin sebagai ayahnya mengirim sepucuk surat kepada bendaharawan negara, yang isinya minta agar beliau diberi pinjaman uang sebanyak 4 dirham, dengan jaminan gajinya bulan depan supaya dipotong. Kemudian bendaharawan itu mengirim surat balasan kepada umar, yang isinya demikian : “wahai umar adakah engkau telah dapat memastikan bahwa engkau akan hidup sampai bulan depan?, Bagaimana kalau engkau mati sebelum melunasi hutangmu?� Membaca surat bendaharawan itu, maka seketika itu juga umar tersungkur menangis, lalu beliau menasehati anakanya dan berkata : “Wahai anaku, berangkatlah kesekolah dengan baju usangmu itu sebagaimana biasanya, karna akau tidak dapat memperhatikan umurku walaupun untuk satu jam.� Sungguh, batasan umur manusia tidak ada yang mengetahuinya, kecuali hanya Allah SWT semata.
Oleh karna keterbatasan tersebut, dan karna rahasia Allah SWT semata, maka marilah kita pergunakan kesempatan hidup ini dengan meningkatkan taqwa kita kepadanya dan menambah semangat beramal ibadah yang lebih besar lagi. Kembali kepada masalah introspeksi diri dalam menyambut tahun baru hijriah, adalah sangat-sangat perlu bagi kita untuk berkaca diri, menilai dan menimbang amalan-amalan yang telah kita perbuat, penilaian dan penimbanagan ini bukan hanya untuk mengetahui seberapa besar perbuatan kita. Tapi itu semua dilakaukan untuk mengendalikan semua bentuk amalan perbuatan yang hendak kita laukakan dengan penuh pikiran, pertimbangan, dan pertanggung jawaban. Sebab dan terkadang manusia yang tidak pernah bercermin diri bagaikan binatang liar yang terlepas dari jeratan, ia akan berlari dengan sekencang-kencangnya dan melompat dengan sekuat tenaga tanpa menghiraukan kalau itu akan mebahayakannya kembali. Manusia yang demikian akan berbuat sekehendak hatinya, tanpa berpikir dan pertimbangan, yang pada akhirnya ia akan terjatuh ditempat yang sama dan meratapi perbuatannya dengan berulang-lang kali, sungguh malang nasibnya jika setiap tahun ia harus terjatuh dan terjatuh lagi ditempat yang sama.
Ada satu sabda nabi yang mengutarakan tentang perbuatan yang tercela, adalah sebagai berikut : Artinya : “Tanda kecelakaan itu ada empat:
1. Tidak mengingat ingat dosa yang telah lalu, padahal dosa-dosa itu tersimpan disisi Allah SWT .
2. Menyebut nyebut segala kebaikan yang telah diperbuat padahal siapa pun tidak tahu apakah kebaikan kebaikan itu diterima atau ditolak.
3. Memandang orang yang lebih unggul dalam soal duniawi.
4. Memandang orang yang lebih rendah dalam hal agama. Allah SWT berfirman, aku menghendaki dia sedang dia tidak menhendaki diriku, maka dia aku tinggalkan.� Sungguh sangat malang dan tiada ungkapan bagi manusia yang ditinggalkan sang kholiq. Akan tetapi Allah SWT , maha bijaksana, sehingga ia tidak menghendaki hamba-hambanya terjerumus dalan kehancuran. Akan tetapi Allah SWT memberikan tuntunan hidup yang berupa agama Islam, yang didalamnya terdapat ajaran-ajaran yang menuju kepada kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.
Oleh sebab itu berbahagialah bagi mereka yang memperoleh nikmat umur yang panjang dan mengisinya dengan amalan-amalan yang baik dan perbuatan-perbuatan yang bijak. Rasulullah SAW bersabda : Artinya : “Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya� ( HR Ahmad)� Adalah suatu tindakan yang bijak, jika manusia berbuat salah kemudian ia sadar dan memperbaiki kesalahannya dengan berbuat amalan yang baik dengan komitmen tidak akan mengulangi kesalahannya itu.
Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa :
1. Sebagai muslim yamg taat dengan ajaran tuhannya, hendaklah kita menyambut tahun baru hijriah ini dengan berbuat dan memperbaiki amalan-amalan kita ditahun lalu.
2. Dan hendaklah menyambut tahun baru ini dengan tidak seperti non muslim merayakan tahun baru miladiyahnya.
3. Hidup manusia semakin hari semakin berkurang, maka layaknya manusia yang taat pada tuhannya haruslah ia mempergunakan kesempatan hidupnya didunia ini dengan sebaik mungkin. Karna memang ajal manusia rahasia tuhan, dan jarum jam tidak akan pernah berbalik arah sudah sepantasnyamanusia itu memperbaiki dirinya.
Wallahu A'lam
Andi Iswandi

Read More......

Sabtu, 05 Desember 2009

Sejauh Mana Toleransi Kita?

Dr. Aidh Al Qarni:
Al Quran mengajarkan kita untuk melaksanakan toleransi, perdamaian sosial, perlakuan yang manusiawi, dan kasih sayang sesama manusia, menahan amarah dan memaafkan semua orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِين
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imran 3:134)

Toleransi dimulai dengan toleransi dengan diri sendiri, dengan menahan diri dari menyimpan dendam dan kebencian dan permusuhan. Sebaliknya kita harus mengajar diri sendiri rahmat, persahabatan, dan perdamaian. Kita harus mengampuni orang tua kita, kerabat, dan semua kerabat kita, memelihara hubungan darah, karena memang Allah swt telah memerintahkan kita untuk melakukan itu semua.

Kita harus bermurah hati dengan kerabat kita, merawat mereka, memaafkan kesalahan mereka, dan menoleransi kerugian yang mereka lakukan kepada kita. Kita harus toleran dan memaafkan anggota-anggota masyarakat kita sehingga jika mereka berbuat salah, kita akan membetulkan mereka dengan kelembutan dan nasihat ringan, mengingat bahwa kita mungkin sama seperti yang mereka lakukan.

Kita harus mengirimkan pesan tentang toleransi dan perdamaian ke dunia. Kita harus menunjukkan kepedulian kepada bangsa-bangsa lain `keselamatan dan kesejahteraan sehingga mereka dapat diyakinkan bahwa kita tidak akan menyakiti mereka. Mereka dan kita hidup di planet yang sama. Kita memiliki kepentingan bersama dan keuntungan. Sebagai manusia, kita semua memiliki tanggung jawab terhadap satu sama lain.

Di sinilah kita menunjukkan wajah Islam yang indah tanpa kekerasan, penghinaan, dan penindasan. Ia memerintahkan kita untuk menggunakan wacana dan perlakuan yang lembut. Allah swt melarang kita untuk menggunakan terorisme intelektual dan mencoba untuk mengendalikan pikiran orang secara paksa.

Kita perlu menunjukkan kepada dunia bahwa kita peduli tentang kesuksesan, kebahagiaan, dan kehidupan masyarakat. Nabi Muhammad saw diutus untuk membawa kebahagiaan, bukan kesengsaraan kepada rakyat, untuk memimpin mereka kepada keselamatan, bukan kebinasaan, menjaga keamanan dan kehidupan mereka, dan tidak membunuh mereka, kecuali di jalan kebenaran. Rasulullah mengatakan demikian dalam indah dan terinspirasi khotbah pada suatu waktu: "Kalian dilarang untuk membunuh satu sama lain, mengambil harta, dan kehormatan. Larangan ini suci seperti hari ini, di bulan ini, di tanah yang suci ini."

Mengapa orang-orang di dunia selalu melihat orang Islam sebagai pelaku kekerasan? Kita selalu bekerja untuk melakukan kerja kemanusiaan, tapi mengapa sebagian dari kita selalu dianggap sebagai ancaman?

Selama ini, karena kita tidak benar-benar setia kepada agama kita, kita lemah dan tidak siap. Kita terus dicerai-beraikan, cengeng, dan primitif ketika datang ke dunia materi yang mereka sebut peradaban. Orang-orang asing marah dan lelah dengan dunia dan diri mereka sendiri. Mereka marah dengan segala sesuatu, dengan orang-orang dan bahkan dengan air yang mereka minum dan udara yang mereka hirup. Mereka seperti ini karena mereka memiliki sedikit pengetahuan dan tidak mampu untuk hidup dalam persahabatan dan perdamaian dengan masyarakat mereka. Mereka tidak mampu berinteraksi dengan orang dan menunjukkan atau menerima kasih sayang.(eramuslim.com)

Read More......

Selasa, 05 Mei 2009

TAK SESULIT YANG ANDA BAYANGKAN


Di sebuah ladang terdapat sebongkah batu yang amat besar. Dan seorang
petani tua selama bertahun-tahun membajak tanah yang ada di sekeliling
batu besar itu. Sudah cukup banyak mata bajak yang pecah gara-gara
membajak di sekitar batu itu. Padi-padi yang ditanam di sekitar batu
itu pun tumbuh tidak baik.

Hari ini mata bajaknya pecah lagi. Ia lalu memikirkan bahwa semua
kesulitan yang dialaminya disebabkan oleh batu besar ini. Lalu ia
memutuskan untuk melakukan sesuatu pada batu itu. Lalu ia mengambil
linggis dan mulai menggali lubang di bawah
batu. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa batu itu hanya
setebal sekitar 6 inchi saja. Sebenarnya batu itu bisa dengan mudah
dipecahkan dengan palu biasa. Kemudian ia lalu menghancurkan batu itu
sambil tersenyum gembira. Ia teringat bahwa semua kesulitan yang di
alaminya selama bertahun-tahun oleh batu itu ternyata bisa diatasinya
dengan mudah dan cepat.

Renungan:
Kita sering ditakuti oleh bayangan seolah permasalahan yang kita
hadapi tampak besar, padahal ketika kita mau melakukan sesuatu,
persoalan itu mudah sekali diatasi. Maka, atasi persoalan anda
sekarang. Karena belum tentu sebesar yang anda takutkan, dan belum
tentu sesulit yang anda bayangkan.

Read More......

Senin, 20 April 2009

Aku Berperang bukan untuk Umar, tapi untuk Rabb Umar


Khalid bin Walid adalah seorang pemberani dan memiliki wibawa militer yang langka, seringkali memimpin pertempuran-pertempuran dan memenangkannya sejak zaman Rasulullah SAW sampai pada pemerintahan Abu Bakar. Namun Umar tidak menyukai beberapa perangainya kemudian menganjurkan Abu Bakar untuk mencopot Khalid bin Walid dari jabatannya sebagai panglima. Abu Bakar tidak mengindahkannya, tapi Umar bersikukuh Khalid harus dicopot dari jabatannya, sehingga ketika menduduki kursi khalifah, Umar segera menarik Khalid dari jabatannya dan menjadikannya sebagai tentara biasa.
Saat itu Khalid bin Walid tengah bertempur di Ma’ma’ah dalam rangka menaklukkan Syam. Dan Abu Ubaidah menyampaikan surat dari Umar kepadanya agar ia meletakkan jabatannya. Sejumlah sahabat berkumpul di dalam tenda panglima mereka-Khalid, dan menyarankan kepadanya untuk tidak mematuhi perintah Umar. Namun Khalid berkata, “aku berperang bukan untuk Umar, tapi untuk Rabb Umar”. Maka jika sebelumnya Khalid berperang sebagai panglima, setelah itu ia berperang sebagai prajurit biasa.
Inilah salah satu karakter sahabat Rasulullah SAW yang sejarahnya tercatat dengan tinta emas bahwa mereka telah membuktikan perjuangannya kepada kita semua. Tak ada yang bisa memiliki kepribadian mulia seperti ini kecuali ia benar-benar mengikhlaskan dirinya di jalan Allah. Tetap berperang meskipun jabatannya sebagai panglima dicopot, menjauhkan diri dari perasaan benci dan iri dan sesuai kehendak Allah. Masih berkonsentrasi pada tujuan awalnya berperang seperti yang diamanahkan meski hanya berstatus sebagai prajurit biasa.
Bandingkanlah dengan perjuangan kita sekarang, sedikit tribulasi saja sudah membuat semangat kita untuk melaksanakan amanah dakwah yang diembankan di pundak kita menjadi menurun. Enggan untuk bekerja sama karena terpaku pada permasalahan internal. Tidak taat pada qiyadah hanya karena tidak menyukainya, merasa tidak nyaman bekerja dengannya. Melalaikan amanah yang diberikan pada kita hanya karena merasa pekerjaannya tidak dihargai. Baiknya kita merenungkan kembali apa saja kontribusi kita terhadap dakwah. Dan dari sekian banyak kontribusi itu (misalnya) apakah semua itu kita lakukan demi mengharapkan ridho Allah, ataukah hanya karena merasa bertanggung jawab pada qiyadah atau organisasi tempat kita mengemban amanh tersebut. Atau kita tetap mengerjakan amanah itu tapi dengan asal-asalan dan hati yang jengkel karena ditegur oleh qiyadah? Berapa banyak amanah dakwah ini kita kerjakan sebaik-baiknya dengan atau tanpa melihat siapa qiyadah kita, atau siapa partner kerja kita?
Tujukanlah aktivitas-aktivitas dakwah kita hanya pada Allah semata. Menurut kehendak Allah saja, bukan kehendak jiwa-jiwa rindu pujian yang senantiasa menuruti hawa nafsu belaka. Tetap istiqamah berjuang meski berbagai hal yang tidak mengenakkan menjadi teman sehari-hari. Melanjutkan gerak dakwah sesuai tujuan awal tanpa harus melihat dengan siapa kita bekerja dan sebagai apa kita bekerja. Sebab kita tak pernah tau pada aktivitas mana yang menyebabkan Allah mencintai kita. Dan Allah tidak hanya membalas kita karena hasil yang kita dapatkan tetapi lebih besar lagi pada proses yang kita jalankan.

Muadz bin Jabal meriwayatkan ketika beliau diutus oleh Rasulullah SAW ke Yaman, Ya Rasulullah, berilah pesan kepadaku. Lalu Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Ikhlaskanlah agamamu, niscaya amal yang sedikitpun mencukupimu.” (Imam Hakim hadits shahihul Isnad)
“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat perbuatanmu, mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar : 10-12)
“Dan tidaklah mereka diperintah melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama… (QS Al-Bayyinah :5)

Read More......

Selasa, 07 April 2009

MERENDAHKAN HATI MENINGGIKAN KEIMANAN

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu (QS Al-Isra:37-38)

Segala puji bagi Allah yang telah memilih kita menjadi bagian dari para pengemban dakwah. Mempercayakan amanah yang diemban para rasul di pundak kita, meneruskan perjuangan Rasulullah SAW. Menapaki jalan perjuangan yang penuh onak duri sebagaimana yang dihadapi Rasulullah dan para sahabat dahulu. Jalan perjuangan yang menjadi kesempatan kita menuju keridhaan Allah SWT. Sebuah anugerah yang hanya diberikan-Nya hanya pada orang-orang pilihan. Bersyukurlah karena Allah telah menuntun kita ke jalan keimanan yang indah, meski kadang langkah kita terlalu lemah untuk bertahan disaat ujian datang. Semoga Allah selalu menjaga kita dalam keistiqamahan di jalan yang penuh liku ini.

Terkadang tanpa disadari kita menganggap diri sudah baik, dengan kerudung lebar, hafalan sekian juz, pengurus lembaga dakwah ini dan itu, rajin bersedekah, qiyamul lail dan banyak amalan serta aktivitas-aktivitas dakwah yang lain. Lalu kita merasa ujub dengan semua yang telah kita lakukan. Apalagi banyak pujian yang datang kepada kita, seolah kita adalah orang-orang baik yang tak pernah berbuat salah. Padahal sesungguhnya Allah yang menyembunyikan aib kita dari mereka yang memuji. Jika saja Allah membukakan aib kita, maka tak ada satupun manusia di muka bumi ini yang mempercayai kita lagi. Sungguh, keburukan dalam diri kita jauh lebih banyak dari pujian yang datang pada kita.

Seorang sahabat Rasulullah SAW yang kadar keimanannya jika dibandingkan dengan keimanan seluruh orang beriman di muka bumi ini niscaya lebih besar keimanannya, Abu Bakar RA. selalu gemetar saat dipuji orang. "Ya Allah, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka. Janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka", ucapnya lirih. Lantas siapa kita yang berbangga hati dengan pujian yang terkadang tak layak ditujukan pada kita. Kita bahkan mungkin tak tau apakah amalan-amalan yang kita lakukan adalah sebenar-benar bentuk keimanan kita kepada Allah ataukah hanya sekedar rutinitas ibadah yang kering tanpa nuansa ruhani. Alhamdulillah jika muhasabah amal yaumi sudah terpenuhi, tapi apakah kita berpikir bagaimana dengan kualitas?

Betapa besar penghargaan Allah kepada orang-orang pilihan ; para penyeru kebenaran, pengemban risalah nabi. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata : “Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri”?” (QS. Fushilat :33). “…Sesungguhnya Allah telah membeli dari kaum mukminin, diri, dan harta mereka, bahwasanya mereka mendapat balasan surga” (QS. At-Taubah: 111). Kita berlomba-lomba dalam mengerjakan amanah, mengambil tiap peluang jihad yang disodorkan. Mengorbankan kepentingan diri dan keluarga demi dakwah. Tak diragukan lagi betapa banyak peluh yang menetes saat amanah dakwah memanggil. Tak terhitung berapa rupiah yang dikeluarkan untuk kelancaran agenda dakwah. Berapa banyak waktu tersita untuk agenda-agenda dakwah. Semua pengorbanan itu…cukuplah Allah yang membalasnya.

Menjadi orang-orang pilihan yang mengemban amanah dakwah dengan semua pengorbanan itu tak harus membuat kita merasa berbangga diri. Menjadi orang-orang pilihan tak harus membuat kita merasa diri lebih tinggi dari orang lain, merasa orang lain tak tau apa-apa. Merasa kitalah yang lebih pantas masuk surga lebih dahulu. Padahal kita tak tau bahwa mungkin banyak orang di luar sana yang lebih Allah cintai dan lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Orang yang mungkin selama ini kita rendahkan, kita anggap tak tau apa-apa, namun ketidaktahuannya itu yang membawanya penuh keikhlasan belajar tentang Rabb yang menciptakannya. Lalu membuatnya lebih dekat dan lebih mengenal Tuhannya bahkan lebih besar kecintaannya kepada Allah, melebihi apa yang kita sampaikan di sana-sini tentang bagaimana seharusnya seorang hamba mencintai Allah. Sementara kita asyik dengan aktivitas dakwah di sana-sini yang tak jarang membuat lelah lalu kemudian mengabaikan hubungan kita dengan Allah. Dan ketika kelelahan itu memuncak tanpa disertai hubungan yang baik dengan Allah, kekecewaan menghampiri. Mulailah menghitung-hitung berapa banyak pengorbanannya untuk dakwah, berapa banyak yang dilakukannya untuk jamaah dan membandingkannya dengan apa yang sudah didapatkannya. Karena memandang dari sudut yang sempit, tak jarang hal itulah yang membuat futur, mulai menjauhi saudara-saudaranya, merasa perjuangannya tak dihargai kemudian mencari kesenangan dengan cara yang lain. Na’udzubillahi min dzaalik.
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab(Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu)supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS Al-Hadid ;22-23)

Orang-orang pilihan itu semestinya bisa membuktikan bahwa ia benar-benar orang pilihan. Yang tetap tegar ketika ujian datang, yang bisa berlapang dada ketika kritikan datang, yang tetap berjuang meski cemoohan kian banyak menghujani. Orang pilihan yang tetap merendahkan hatinya meski keberhasilan demi keberhasilan datang lewat perjuangannya, yang tetap menundukkan diri di hadapan Allah. Tak pernah marah ketika diluruskan kesalahannya, yang tetap berjalan meski amanah kian berat, tak pernah mengeluh akan beratnya perjalanan dan selalu memperbaiki hubungannya dengan Allah.

Teruslah kita renungi bersama benarkah kita orang-orang pilihan itu? Atau hanya diri kita yang menganggap bahwa kita termasuk orang –orang pilihan? Merasa kita telah berbuat banyak, merasa telah melakukan amal-amal baik padahal mungkin saja apa yang telah kita lakukan itu tak ada harganya sama sekali di hadapan Allah. Apa yang telah kita lakukan hanya seperti debu yang diterbangkan angin kelak di hadapan Allah ketika yaumil hisab tiba. Apapun posisi kita saat ini, teruslah bermuhasabah dan memohon kepada Allah agar tidak menjadi orang-orang yang merugi karena seluruh amalannya disia-siakan oleh Allah.

Jauhkan diri kita dari maksiat sekecil apapun. Terkadang kita meremehkan dosa-dosa kecil dengan membandingkan dosa besar yang dilakukan orang-orang yang tidak tau. Lalu apakah bedanya dosa kecil yang dilakukan oleh orang yang berilmu dengan dosa besar yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak tau? Telah berapa banyak maksiat yang kita kerjakan kemudian membuat hilangnya getaran-getaran hati perasaan bersalah ketika pertama kali berbuat kesalahan? Maksiat kecil mungkin, tapi jika itu terakumulasi tanpa kita sadari dan tidak pernah kita pedulikan, bukankah kematian hati akan segera tiba? Lalu masih pantaskah status aktivis dakwah kita sandang?

“Katakanlah, apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)

Kutuliskan kalimat-kalimat ini untuk mengingatkan diriku dan kita semua yang bersaudara di jalan Allah. Semoga kita tetap bisa merendahkan hati meskipun mungkin telah banyak keberhasilan yang kita dapat. Biarkan cahaya Islam terus meluas pancarannya bersama dengan luasnya keimanan kita pada Allah. Semoga Allah berkenan menjaga keistiqamahan kita di jalan ini hingga ujung usia kita. TERUS BERJUANG ATAU KITA AKAN TERGANTIKAN.
Wallahua’lam bi showab.

Read More......

Rabu, 25 Maret 2009

SEKEPING RINDU PADA KEKASIH ALLAH

Karena pribadinya aku terpesona
Karena budinya aku jatuh cinta
Rinduku padanya tiada terkata
Nantikanlah aku di taman syurga…
(Hijaz, Dia Kekasih Allah)

Cuplikan syair tersebut membuat terhanyut, serasa ingin berada pada zaman Rasulullah dahulu. Sebagai seorang muslim, membuktikan keislaman adalah dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Mengakui bahwa tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah dan mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika saat mengisi biodata kita mencantumkan idola kita adalah Rasulullah SAW, bagaimana menunjukkan rasa sayang dan cinta kita kepada Rasulullah SAW? Rupanya tak cukup dengan pengakuan lisan dan coretan saudaraku…

Ketika Al Musthafa ada di hadapan
Kupandangi pesonanya dari ujung kaki hingga ujung kepala
Tahukah kaliana apa yang terjelma?
Cinta!
(Abu Bakar As-Shiddiq)

Ini adalah ungkapan Abu Bakar untuk mengungkapkan betapa cintanya kepada Rasulullah. Kecintaan memenuhi hatinya, membuatnya mampu berkorban untuk Rasulullah ; wujud ketaatannya kepada Allah. Ketika menemani Rasulullah hijrah, kakinya disengat oleh hewan berbisa, dia tak berani bergerak karena takut menganggu tidur Rasulullah SAW. Dengan menahan rasa sakit, air matanya menetes ke wajah Rasulullah SAW. Sampai akhirnya Rasulullah terbangun dan kemudian meludahi bagian yang digigit sehingga hilang rasa sakitnya.

Rasulullah, yang ketika Allah akan mencabut ruhnya yang mulia dari jasadnya yang telah dipersembahkan untuk dien ini meminta kesenangan hati dari Jibril untuk mengetahui kabar umatnya kelak. Taukah saudaraku apa jawaban Jibril? "Aku beri engkau sebuah kabar akbar, Allah telah berfirman, "Sesungguhnya Aku, telah mengharamkan surga bagi semua Nabi, sebelum engkau memasukinya pertama kali, dan Allah mengharamkan pula sekalian umat manusia sebelum pengikutmu yang terlebih dahulu memasukinya" Jawaban yang amat menyenangkan Rasulullah, hingga wajahnya bercahaya seolah-olah rasa sakitnya telah hilang dan ia merasa siap dicabut ruhnya oleh Izrail. Betapa besar cinta Rasulullah pada umatnya, hingga saat-saat terakhirnya di dunia yang diucapkan bibir manis kekasih Allah ini adalah ummatku…ummatku…

Itu adalah secuil penggalan kisah orang yang insyaAllah sama-sama kita cintai Rasulullah SAW, lantas bagaimana dengan kita hari ini? Hanya sebatas ucapan dan tulisan sajakah kadar cinta kita padanya? Jika saat ini kita tak punya kesempatan lagi bertemu beliau SAW atau bahkan membantunya dalam perjuangan, maka dengan apa kita membuktikan cinta kita padanya?

Saudaraku…Rasulullah SAW telah pergi sejak lama, menemui kekasih yang merindukannya. Meninggalkan untaian pesan terakhir agar kita tidak pernah meninggalkan Al-Qur’an dalam kondisi apapun. Tapi cahaya yang ditinggalkannya hingga kini tak pernah meredup, meski orang-orang kafir berusaha meredupkan pesonanya. Rasulullah yang membuat Islam menggema ke seluruh dunia, yang paling menyantuni anak yatim, yang mengajarkan kita untuk lebih memperhatikan sesama. Rasulullah dengan sabdanya yang agung berbicara tentang surga yang indah sebagai hadiah bagi orang-orang yang mengerjakan kebaikan. Yang mengajarkan kita arti perjuangan sesungguhnya, dengan untai-untai kata indah terlahir dari bibirnya yang mulia.

Saudaraku…meski kita tak dapat lagi bertemu dengan Rasulullah, kita masih punya kesempatan melanjutkan perjuangan beliau. Berjuang agar cahaya Islam bersinar sampai ke sudut-sudut negeri ini. Membuktikan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, bukan hanya bagi para pemeluknya saja tapi bagi alam dan seluruh isinya. Berbagi kebaikan meski hanya sekedar menyingkirkan duri dari jalanan. Meski kita tak dapat meneladani beliau seratus persen, setidaknya kita tak lagi mengambil sosok lain sebagai idola dengan mengesampingkan Rasulullah. Karena tidak ada satupun manusia yang mampu menandingi kemuliaan akhlaknya dan ketaqwaannya kepada Allah. Bershalawatlah kepadanya sebagai tanda cinta kita padanya.

Kukutip sebuah riwayat tentang keutamaan mengucapkan shalawat. Pada suatu kesempatan, Rasulullah berkumpul dengan para sahabatnya, kemudian beliau bersabda,”Malaikat Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail A.S.telah berkata kepadaku.” Keempat malaikat masing-masing mengungkapkan bantuan yang akan mereka berikan kepada orang yang sering mengucapkan shalawat.
Berkata Jibril A.S.:”Wahai Rasulullah, barangsiapa yang membaca shalawat kepadamu setiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan saya bimbing tangannya dan akan saya bawa dia melintasi titian seperti kilat menyambar”
Berkata pula Mikail A.S.”Mereka yang bershalawat ke atasmu akan kuberikan mereka minum dari telagamu.”
Berkata pula Israfil A.S. :”Mereka yang bershalawat kepadamu, aku akan sujud kepada Allah dan akau tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah mengampuni orang itu.”
Malaikat Izrail A.S. pun berkata:”Bagi mereka yang bershalawat ke atasmu, aku akan cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para nabi.”
Orang yang terdekat kepada aku pada hari kiamat ialah yang terbanyak membaca shalawat kepadaku.(HR.At-Tirmizi)

Saudaraku, kenanglah Rasulullah dalam kerinduan yang dalam, dalam tiap langkah perjuangan kita di jalan Allah. Meski hanya dengan ucapan shalawatmu yang tulus. Agar itu menjadi penawar hati dikala kekeringan ruhani menyapa. Tak terbayangkan bahagianya ketika kita bertemu dengan orang yang kita sayangi, ketika ia berada di dekatmu dan menyapa dengan lembut serta memberikan senyumnya yang manis. Adakah yang bisa menggantikan keberuntungan ini ketika tangan Rasulullah yang mulia mengangkat kita dari neraka dengan syafaatnya? Adakah perasaan yang lebih indah dari perasaan ketika orang yang kau cintai dengan seluruh jiwa ragamu menyatakan bahwa ia juga mencintaimu?
Wahai kekasih Allah…terlalu besar cinta di tiap inci hati ini untuk diungkapkan. Terlalu indah rindu ini untuk kutuangkan. Semesta pun mencintaimu dan aku berharap ditemani olehmu di surga kelak amin…

Read More......

Kamis, 12 Maret 2009

Istiqomahlah...Saudaraku......

Tetaplah istiqomah saudaraku.....
dijalan yang lurus ini...dijalan yang berat ini.. dijalan Islam ini...
kita pererat persaudaraan kita...hingga...tanpa kata....tanpa nyawa..
Kita semua mungkin sudah bosan sudah futur ......sudah jenuh.....
mungkin karena iman ini masih lemah ...iman masih tak sempurna...
Tapi istiqomahlah...saudaraku....
jangan sampai hidayah Allah semakin jauh dari hati kita
berharaplah...berdoalah dan yakinlah................
yakinlah...kenikmatan pengorbanan yang kta rasa dijalan ini....jauh....lebih nikmat....lebih indah....
Dibanding apa yang dicari oleh orang-orang lalai itu..
Saudaraku ....
kita semakin tegar bila kita sabar dengan ujian...
kita semakin bahagia bila keyakinan kita telah bulat....
kita semakin bersyukur ketika bisa maksimal dalam perjuangan dakwah ini....
Terangilah hati dan jiwa kita untuk tetap bersama…
lembutkan hati dan jiwa kita dengan kebersamaan
sinari dengan cahaya ukhuwah agar lebih bercahaya...lebih indah...
hilangkan semua keraguan......
jauhkan sifat-sitat tercela...
jauhkan dari sifat yang membuat kita semakin jauh dari kebenaran...
bukankah kemulian dibayar dengan pengorbanan yang dahsyat...
tetaplah isitiqomah saudaraku
tetaplah istiqomah dalam islam dan iman.....
Tetaplah istiqomah.....
walau hati ini jenuh....perih.....walau jasad ini sakit....letih......
tetaplah istiqomah.......
Walau remuk tulang-tulang kita…….. walau runtuh sendi-sendi kita………walau habis cucuran keringat darah dan air mata kita………….
Tetaplah di jalan ini…………
Walau berkorban perasaan ………….. walau pahit menerima kenyataan………
Saudara ku………………
Jalan yang kita tempuhi memang berat………penuh dengan tantangan, hambatan, ancaman ,godaan……
Banyak yang kita temui di jalan ini……..
Yang meninggikan asa dan harap kita…………..
Namun terkadang menghempaskan batin dan jiwa kita………….
Akan banyak yang kita temukan……..idealisme dan realitas bertempur, berperang, jauh masuk ke relung hati kita…………..
Hingga akhirnya jiwa kita harus mengalah…apabila realitas jauh dari angan……..
Tetaplah disini Saudara ku…………….
Kita akan memulai perjalanan yang lebih mendaki dan terjal……………
Tapi disanalah kita berharap bisa merasakan kenikmatan yang kita idam-idamkan………….
Maka ucapkanlah “Alhamdulillah” atas semua keadaan yang kita alami………
Meski kebersamaan ini sungguh menguras keringat dan meletihkan sendi-sendi…..

Read More......

Jumat, 27 Februari 2009

Kamu Sudah Tahu, Maka Komitmenlah

Segala puji hanya bagi-Mu, ya Allah. Kepada-Mu segala yang ada di langit dan di bumi bertasbih dengan tidak mengenal lelah, jenuh, dan jemu. Maha Suci Engkau, Ya Allah. Engkaulah yang mensucikan hati-hati hamba-Mu sesuai dengan kehendak-Mu.

Wahai diriku.…

Mari coba tatap dalam-dalam dan bertanyalah siapa kamu? Maka di sana akan terlihat seluruh kelemahan yang ada. Balil insanu ‘ala nafsihi bashirah.

Diriku…, bercerminlah kepada seorang sahabat: Handzalah bin Rabi’ Al-Usaidi r.a. Ia salah satu penulis wahyu yang dengan segala kesadaran dirinya sendiri mengatakan, ”Nafaqo Handzalah, telah munafik Handzalah.”

Diriku…, apa yang terjadi pada diri Handzalah sampai-sampai menegur dirinya sendiri seperti itu? Padahal beliau sangat dekat dengan Rasullullah. Jawabnya tak lain adalah kejujuran diri. Handzalah merasa iman yang dimilikinya terasa kuat ketika berada di dekat Rasulullah saw. Seakan ia menatap surga dan neraka dengan kedua matanya. Namun ketika kembali sibuk dengan keluarganya, dengan aktivitas duniawinya, ia merasakan kondisi dirinya sangat berubah.

Diriku…, dengan kata apa kau harus mengungkapkan kondisimu? Seperti ungkapan Handzalah kah? Atau lebih dari itu? Atau lebih buruk? Ya Allah, ampunilah hambamu ini.

Wahai diriku….

Bukankah kamu juga telah mengenal siapa dirimu? Yang lebih banyak sibuk dengan dunia? Diri yang lemah dalam beribadah, diri yang merasa berat berkorban untuk taat? Diri yang banyak bicara sedikit kerja? Lalu apakah kamu masih terus melakukan itu padahal Allah swt. telah menegurmu: ”Aradhitum bil hayatiddunya minal akhirah, apakah kalian lebih cinta dunia dibanding akhirat?” Astagfirullah!

Diriku…, jika kamu telah tahu segala kekuatan dan kelemahanmu, lalu apa yang akan kau lakukan? Memperbaikinya? Atau, sebaliknya?

Bercerminlah, wahai diriku, kepada sahabat Huzaifah r.a. kala menjawab pertanyaan Rasulullah saw., “Bagaimana kondisimu hari ini, wahai Hudzaifah?” Dengan percaya diri ia menjawab, ”Alhamdulillah, ya Rasulullah, saat ini aku menjadi seorang mukmin yang kuat iman.” Rasulullah saw. bertanya kembali, “Hai Huzaifah, sungguh segala sesuatu itu ada buktinya. Maka apa bukti dari pernyataanmu itu?” Jawab Huzaifah r.a., ”Ya Rasulullah, tidak suatu pagi pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk sampai pada sore hari; dan tiada sore pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk hidup sampai pagi hari, melainkan aku melihat dengan jelas di depan mataku surga yang penduduknya bercanda ria menikmati keindahannya dan aku melihat neraka dengan penghuninya yang berteriak menjerit histeris merasakan dahsyatnya siksa.”

Diriku….

Adakah kau merindukan surga sehingga gelora semangatmu membahana memenuhi ruas pori-pori jiwamu, tergerak seluruh kesadaranmu untuk bermujahadah dan berjihad meraih ridha-Nya? Dan apakah kamu takut dan miris akan dahsyatnya siksa neraka sehingga tak satu pun sel tubuh ini kecuali berupaya terlindungi dari sengatannya pada hari pembalasan nanti?

Diriku….

Jika kamu telah mengetahui segala kelemahan yang ada , lalu kamu tidak segara menanggulanginya, maka ketahuilah kamu termasuk orang-orang yang merugi! Begitu pula ketika kamu telah mengetahui kekuatanmu dan kamu tidak bisa mempertahankannya, maka kamu pun termasuk orang yang merugi!

Karena itu….

Perbaiki, jaga, dan tumbuh suburkan kekuatan itu agar amal shaleh, ketaatan, dan dakwah tetap terjaga.
Dengarlah, tatkala mendengar jawaban Huzaifah r.a., Rasulullah saw. mengatakan, “Arafta falzam, kamu sudah tahu, maka komitmenlah dengan apa yang kamu tahu.”
Oleh: Ibnu Jarir, Lc

Read More......