Tampilkan postingan dengan label Save Palatine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Save Palatine. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Desember 2009

"Gaza 2009" Menangkan Cairo International Film Festival 2009

Film berjudul "Gaza 2009" keluar sebagai pemenang pada Festival Film Internasional Kairo (Mahrajan al-Qahirah as-Sinima'i ad-Duwali/Cairo International Film Festival) 2009 yang digelar selama pekan terakhir bulan November kemarin.

Film produksi Syirkah Filasthin li al-Intaj al-I'lami (PMP), Gaza, itu keluar sebagai pemenang setelah menyisihkan 400 film Arab lainnya yang ikut serta dalam festival tersebut.

"Gaza 2009" merupakan film-romantika yang sarat akan pesan kemanusiaan. Kisahnya benar-benar menguras air mata dan menggugah emosi siapapun yang menontonnya. Betapa tidak, film tersebut menceritakan tentang potret kehidupan warga Palestina yang menyayat hati di bawah pendudukan Israel, khususnya di wilayah Jalur Gaza yang mengalami blokade selama beberapa tahun terakhir.

Di tengah kondisi yang mengenaskan itu, mencuatlah kisah cinta seorang pemuda-Muslim dari Gaza dengan seorang gadis-Yahudi dari Nazaret, Israel. Pemuda Gaza itu bekerja di Nazaret, dan di kota kelahiran Isa al-Masih itulah keduanya berkenalan dan saling memadu kasih. Keduanya pun lantas menikah, setelah si gadis memeluk Islam dan ikut suaminya ke Gaza yang nelangsa.

Tentu saja, sejuntai problem perbedaan dua identitas menjuntai dan menghiasi lika-liku kehidupan mereka pasca menikah, dan setelah mempunyai buah hati sebanyak enam anak. Sebagian dari anak-anak mereka, misalnya, justru bercakap dalam bahasa Ibrani, belajar Talmud dan Taurat di Israel.

Sutradara film, Musthafa an-Nabih, berwarganegara Palestina, menyatakan jika kisah film "Gaza 2009" sendiri diilhami dari kisah nyata. Dikatakannya, problem dan konflim mulai muncul dalam kehidupan dua sejoli itu setelah delapan tahun usia pernikahan mereka.

Problem tersebut berpangkal dari keadaan kehidupan di Gaza yang serba sulit pasca blokade Israel. Bisa dibayangkan, pasca blokade itu, Gaza benar-benar seperti wilayah purba: tak ada air bersih, bahan bakar, pasokan makanan, obat-obatan, dan listrik. Bisa dibayangkan betapa mengerikannya kehidupan di sana. Sang istri rupanya merasa tak kuasa hidup di tengah kondisi kehidupan yang benar-benar sengsara seperti itu.

Sang istri pun memutuskan untuk kembali ke Nazaret, kampung halaman asalnya. Ia pun kabur bersama tiga orang anaknya, sementara tiga anak lainnya tinggal bersama si bapak di Gaza. Dua dari tiga anak mereka yang kemudian hidup bersama bapaknya adalah si kembar-bungsu yang baru berusia 27 hari, salah satunya bahkan cacat.

Di Nazaret, si istri dan ketiga anak yang dibawanya, yang paling besar bernama Yasmin (9 tahun), dan menjadi salah satu tokoh utama di film tersebut, kembali memeluk agama Yahudi, sekaligus semua anaknya.

Penderitaan si lelaki tak hanya berhenti sampai di sana saja. Dinas intelejen Israel memaksanya untuk meninggalkan semua anaknya, untuk diboyong ke wilayah negeri itu dan menjadi warga negara Israel. Puncaknya, di hari terakhir penyerbuan Israel ke Gaza di awal tahun lalu, lelaki itu pun mati dirajam peluru dan roket pesawat Israel.

An-Nabih, sang sutradara, bercerita bahwa pasca berakhirnya agresi Israel ke Gaza di awal tahun yang lalu, pihaknya segera mengunjungi wilayah tersebut, untuk membuat film dokumenter. Saat itu, secara tak sengaja ia mendengar kisah Yasmin dan keluarga Gaza-Palestina dan Nazaret-Israel ini.

"Saat mengunjungi Gaza setelah agresi Israel berakhir, saya mendengar kisah Yasmin yang dibawa kabur oleh ibunya dari Gaza. Keluarga ini pun terpecah, menjadi keluarga Muslim dan Yahudi," kata an-Nabih.

Ditambahkan oleh seniman kenamaan Palestina itu, pesan utama dari film garapannya adalah nilai-nilai kemanusiaan. "Di film itu, kami ingin menyuguhkan kisah kemanusiaan, yang sangat nyata, dan sangat memukul. Betapa sebuah keluarga yang mulanya harmonis menjadi hancur dan menjadi terbelah," terang an-Nabih.

Sebelumnya, film "Gaza 2009" juga menjadi pemenang kategori film dokumenter pada Festival Film Arab yang digelar di Tunisia belum lama ini.

Untuk maklumat lebih jauh tentang film Gaza 2009, dapat diakses di situs produser film tersebut, yaitu www.pmptv.tv (ags)(eramuslim.com)

Read More......

Senin, 07 September 2009

Wartawati Al-Jazeera Ditembaki Gas Air Mata oleh Israel

Tentara Isreal sungguh bersikap kelewat batas. Mereka menggunakan kekerasan kepada siapa pun di Palestina

Hidayatullah.com--Koresponden stasiun televisi Al-Jazeera di Tepi Barat Jacky Rowland ditembak dengan gas air mata oleh pasukan Israel ketika melaporkan secara langsung dari Tepi Barat ke markas Al-Jazeera di Doha pada Jum'at (4/9) siang lalu.

Wanita itu sedang melaporkan keadaan di sekitar pagar pembatas Israel dan menunjukkan gambar tentara Israel yang masuk ke area antara pagar untuk lebih mendekat ke orang-orang Palestina dan melemparkan gas air mata ke arah mereka, ketika tiba-tiba sebuah granat gas air mata meluncur tepat ke arahnya. Dengan sigap ia pun menghindar sambil terus memegangi mikrofonnya. Gas air mata itu jatuh tepat di sebelahnya.

Awalnya gas air mata hanya ditujukan ke arah rakyat Palestina yang mengikuti aksi protes rutin setiap hari Jum'at di Desa Bil'in, Tepi Barat.

"Mereka jelas-jelas berusaha menghentikan siaran kami, para tentara menembakkan granat tepat ke arah kami. Jelas sekali kami yang sekarang menjadi target mereka, dan bukan para pengunjuk rasa," katanya di depan kamera siaran langsung, sejenak setelah gas air mata jatuh di sampingnya.

Tanpa rasa gentar wanita itu bertekad terus menyampaikan laporannya, meskipun gumpalan asap gas air mata mengelilinginya.

Pada Jum'at sebelumnya seorang fotografer menderita luka setelah terkena tembakan peluru pasukan Israel.

Menanggapi peristiwa itu pihak militer Israel IDF mengatakan, setiap pekan kekerasan dan unjuk rasa ilegal dilakukan oleh orang-orang desa Palestina di Tepi Barat. Mengharuskan mereka menggunakan kekuatan senjata untuk mengusirnya.

"Para pengunjuk rasa melepari batu-batu, bom molotov, dan membakar ban ke arah tentara," katanya. "Pengalaman lalu menunjukkan bahwa para wartawan datang ke tempat kejadian dari arah desa-desa Palestina, yang berarti mereka membahayakan dirinya sendiri."

Seharusnya tentara Israel itu juga menambahkan komentarnya dengan, “jika kami tidak membangun pagar pembatas ini maka tidak akan ada aksi unjuk rasa oleh rakyat Palestina.” [di/aj/ynet/www.hidayatullah.com]

Read More......

Senin, 17 Agustus 2009

RS Indonesia di Gaza Bantu Diplomasi Perdamaian


Jakarta - Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina yang digagas antara rakyat dan pemerintah Indonesia, kini tengah dimatangkan persiapan peletakan batu pertama pembangunannya dinilai akan membantu upaya-upaya diplomasi perdamaian.

Benang merah itu, seperti dilaporkan ANTARA, terangkum dalam pertemuan yang dilaksanakan berbagai pihak terkait di Jakarta, Kamis, yang diprakarsai oleh Pusat Pengendalian Krisis Departemen Kesehatan (Depkes).

Pertemuan itu diikuti oleh Kepala PPK Depkes dr Rustam S Pakaya beserta jajarannya, Direktur Timur Tengah Departemen Luar Negeri (Deplu) Aidil Chandra Salim, dr Joserizal Jurnalis, SpOT dan Ir Faried Thalib dari "Medical Emergency Rescue Committee" (MER-C) Indonesia, serta Deputi Mensesneg Bidang Dukungan Kebijakan Ibnu Purna Muchtar, SE, MA.

Menurut Joserizal Jurnalis, bantuan kesehatan berbentuk RS, terlebih dengan nama RS Indonesia, jelas mempunyai risiko politik yang lebih kecil dibandingkan dengan bantuan wujud lain, terlebih bila dikaitkan dengan konteks politik, dimana Israel sebagai pihak yang menduduki Jalur Gaza selalu mengontrol dengan ketat bantuan-bantuan yang ada.

"Bila bantuan berupa uang tunai secara langsung ataupun bahkan obat-obatan dalam jumlah besar, kemungkinan tingkat kecurigaan (Israel) bahwa bantuan itu akan disalahgunakan lebih besar," katanya.

Ia memberi rujukan bahwa Uni-Eropa sudah mampu mewujudkan bantuan pembangunan RS di Jalur Gaza, sehingga hal itu menjadi penguat bahwa RS Indonesia yang akan dibangun diyakini juga bisa dilaksanakan.

Sementara itu, Aidil Chandra Salim --dengan merujuk laporan dari Kedubes Indonesia di Kairo, laporan media massa dan juga hasil pertemuan dengan Dubes Mesir untuk Indonesia--memberikan gambaran bahwa satu-satunya pintu perbatasan dimana akses orang dan barang bisa masuk tanpa kehadiran fisik pasukan Israel memang hanya di Rafah, yang terbagi atas Rafah Mesir dan Rafah Jalur Gaza.

Hanya saja, kata dia, meski di Rafah pihak yang berwenang untuk membuka dan menutup pintu perbatasan adalah Mesir dan Palestina, namun karena Jalur Gaza adalah wilayah yang diblokade Israel, maka tekanan-tekanan Israel juga masih berpengaruh.

"Kondisi itulah yang mungkin menjadi hambatan lalu-lintas masuknya barang untuk membangun rumah sakit itu," katanya.

sumber: www.sabili.co.id

Read More......

Kamis, 01 Januari 2009

PALESTINA

Read More......