Kamis, 14 Mei 2009
Rabu, 06 Mei 2009
UNTUKMU YANG TAK LELAH BERHARAP

Islam itu indah sahabat…
Lebih indah daripada pelangi di ujung nirwana selepas hujan reda
Lebih menakjubkan daripada 7 keajaiban dunia
Lebih mengagumkan daripada berkelana di antara bintang-bintang di luar angkasa sana
Lebih berharga dari tiap perhiasan yang ada di jagad raya ini, bahkan jauh lebih berharga untuk dibandingkan dengan hal-hal semacam itu
Ia teramat sangat indah hingga generasi terbaik dari umat ini menghiasinya dengan darah kesyahidan di medan Badar, Uhud dan medan-medan lain
Untukmu yang tak lelah berharap…
Kepadamu lah Rasulullah mewariskan perjuangan ini
Di pundakmu lah beban dakwah ini diamanahkan
Di tanganmu lah harapan terwujudnya peradaban madani
Biarkan dakwah menghidupi ruhmu, yang menjagamu agar tak menderita kelak
Jadikan dakwah ini sebagai pembeda antara kaum yang diberkahi dan kaum pendusta ayat-ayat Nya
Untukmu yang tak lelah berharap…
Sudahkah kau dengar dentuman yang menghantarkan para syuhada menemui Rabb-nya?
Sudahkah kau lihat wajah-wajah mungil yang berdiri tegak tak tergoyahkan meski senapan yahudi laknatullah kerapkali dihadapkan ke kepalanya? Berbekal batu dan dengan lantang berteriak “Khaibar-Khaibar ya, Yahud! Ja'isyu Muhammad Saufa Ya'uud!”
Sudahkah kau lihat sorot mata ketegaran dan kebanggaan para ibu yang merelakan buah hatinya menjadi mujahid, menanamkan jiwa intifadah dan rindu syahid dalam dada anak-anak itu?
Untukmu yang tak lelah berharap…
Aku bangga padamu yang sanggup mengorbankan kepentinganmu demi merencanakan manuver-manuver dakwah
Aku bangga padamu yang tetap tegar meski hari-hari yang kau lalui penuh dengan ujian dan rintangan
Aku bangga padamu yang tetap bisa tersenyum meski masalah tak bosan menghampirimu, malah dengan lapang dada memberikan tausiyah untuk menguatkan saudaramu yang lain
Aku bangga padamu yang menghabiskan sepertiga malam terakhirnya untuk bersimpuh pada Rabb-Nya penuh deraian air mata pengharapan
Aku bangga pada padamu yang kerap melantunkan al-ma’tsurat dan menghafalkan surat cinta dari Allah sementara teman-temanmu yang lain bersemangat menyenandungkan nasyid atau bahkan lagu-lagu jahiliyah
Untukmu yang tak lelah berharap…
Teruslah berharap agar Allah akan memenangkan perjuangan ini, meski kau tak sempat merasakannya
“Dan sesungguhnya orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami pasti akan kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Ankabut: 69).
Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu. Telah berjumpa dalam taat pada-Mu. Telah bersatu dalam da'wah pada-Mu. Telah terpadu dalam membela syari'at-Mu. Kokohkanlah, Ya Allah ikatannya, kekalkan cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal pada-Mu. Nyalakanlah hati kami dengan ma'rifat kepada-Mu. Matikanlah ia dalam syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong...
Selasa, 05 Mei 2009
TAK SESULIT YANG ANDA BAYANGKAN
![]()
Di sebuah ladang terdapat sebongkah batu yang amat besar. Dan seorang
petani tua selama bertahun-tahun membajak tanah yang ada di sekeliling
batu besar itu. Sudah cukup banyak mata bajak yang pecah gara-gara
membajak di sekitar batu itu. Padi-padi yang ditanam di sekitar batu
itu pun tumbuh tidak baik.
Hari ini mata bajaknya pecah lagi. Ia lalu memikirkan bahwa semua
kesulitan yang dialaminya disebabkan oleh batu besar ini. Lalu ia
memutuskan untuk melakukan sesuatu pada batu itu. Lalu ia mengambil
linggis dan mulai menggali lubang di bawah
batu. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa batu itu hanya
setebal sekitar 6 inchi saja. Sebenarnya batu itu bisa dengan mudah
dipecahkan dengan palu biasa. Kemudian ia lalu menghancurkan batu itu
sambil tersenyum gembira. Ia teringat bahwa semua kesulitan yang di
alaminya selama bertahun-tahun oleh batu itu ternyata bisa diatasinya
dengan mudah dan cepat.
Renungan:
Kita sering ditakuti oleh bayangan seolah permasalahan yang kita
hadapi tampak besar, padahal ketika kita mau melakukan sesuatu,
persoalan itu mudah sekali diatasi. Maka, atasi persoalan anda
sekarang. Karena belum tentu sebesar yang anda takutkan, dan belum
tentu sesulit yang anda bayangkan.
Senin, 20 April 2009
Aku Berperang bukan untuk Umar, tapi untuk Rabb Umar

Khalid bin Walid adalah seorang pemberani dan memiliki wibawa militer yang langka, seringkali memimpin pertempuran-pertempuran dan memenangkannya sejak zaman Rasulullah SAW sampai pada pemerintahan Abu Bakar. Namun Umar tidak menyukai beberapa perangainya kemudian menganjurkan Abu Bakar untuk mencopot Khalid bin Walid dari jabatannya sebagai panglima. Abu Bakar tidak mengindahkannya, tapi Umar bersikukuh Khalid harus dicopot dari jabatannya, sehingga ketika menduduki kursi khalifah, Umar segera menarik Khalid dari jabatannya dan menjadikannya sebagai tentara biasa.
Saat itu Khalid bin Walid tengah bertempur di Ma’ma’ah dalam rangka menaklukkan Syam. Dan Abu Ubaidah menyampaikan surat dari Umar kepadanya agar ia meletakkan jabatannya. Sejumlah sahabat berkumpul di dalam tenda panglima mereka-Khalid, dan menyarankan kepadanya untuk tidak mematuhi perintah Umar. Namun Khalid berkata, “aku berperang bukan untuk Umar, tapi untuk Rabb Umar”. Maka jika sebelumnya Khalid berperang sebagai panglima, setelah itu ia berperang sebagai prajurit biasa.
Inilah salah satu karakter sahabat Rasulullah SAW yang sejarahnya tercatat dengan tinta emas bahwa mereka telah membuktikan perjuangannya kepada kita semua. Tak ada yang bisa memiliki kepribadian mulia seperti ini kecuali ia benar-benar mengikhlaskan dirinya di jalan Allah. Tetap berperang meskipun jabatannya sebagai panglima dicopot, menjauhkan diri dari perasaan benci dan iri dan sesuai kehendak Allah. Masih berkonsentrasi pada tujuan awalnya berperang seperti yang diamanahkan meski hanya berstatus sebagai prajurit biasa.
Bandingkanlah dengan perjuangan kita sekarang, sedikit tribulasi saja sudah membuat semangat kita untuk melaksanakan amanah dakwah yang diembankan di pundak kita menjadi menurun. Enggan untuk bekerja sama karena terpaku pada permasalahan internal. Tidak taat pada qiyadah hanya karena tidak menyukainya, merasa tidak nyaman bekerja dengannya. Melalaikan amanah yang diberikan pada kita hanya karena merasa pekerjaannya tidak dihargai. Baiknya kita merenungkan kembali apa saja kontribusi kita terhadap dakwah. Dan dari sekian banyak kontribusi itu (misalnya) apakah semua itu kita lakukan demi mengharapkan ridho Allah, ataukah hanya karena merasa bertanggung jawab pada qiyadah atau organisasi tempat kita mengemban amanh tersebut. Atau kita tetap mengerjakan amanah itu tapi dengan asal-asalan dan hati yang jengkel karena ditegur oleh qiyadah? Berapa banyak amanah dakwah ini kita kerjakan sebaik-baiknya dengan atau tanpa melihat siapa qiyadah kita, atau siapa partner kerja kita?
Tujukanlah aktivitas-aktivitas dakwah kita hanya pada Allah semata. Menurut kehendak Allah saja, bukan kehendak jiwa-jiwa rindu pujian yang senantiasa menuruti hawa nafsu belaka. Tetap istiqamah berjuang meski berbagai hal yang tidak mengenakkan menjadi teman sehari-hari. Melanjutkan gerak dakwah sesuai tujuan awal tanpa harus melihat dengan siapa kita bekerja dan sebagai apa kita bekerja. Sebab kita tak pernah tau pada aktivitas mana yang menyebabkan Allah mencintai kita. Dan Allah tidak hanya membalas kita karena hasil yang kita dapatkan tetapi lebih besar lagi pada proses yang kita jalankan.
Muadz bin Jabal meriwayatkan ketika beliau diutus oleh Rasulullah SAW ke Yaman, Ya Rasulullah, berilah pesan kepadaku. Lalu Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Ikhlaskanlah agamamu, niscaya amal yang sedikitpun mencukupimu.” (Imam Hakim hadits shahihul Isnad)
“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat perbuatanmu, mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar : 10-12)
“Dan tidaklah mereka diperintah melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama… (QS Al-Bayyinah :5)
Rabu, 15 April 2009
Akhir Pengembaraan Hamba

Bagaimana aku mengerti artinya berhenti jika hatiku terus mengembara
Melesat menembus belukar perjuangan seperti kijang yang tak pernah kehilangan kelincahannya
Kupejamkan kelopak mata lalu berkhayal tentang sebuah negeri indah
Lebih indah dari negeri dongeng
Negeri dengan sejuta cerita bahagia, tiap orang punya cerita bahagianya sendiri
Aku mengembara terus demi memuaskan dahagaku pada bahagianya negeri impian
Ada sekumpulan orang yang kuumpamakan layaknya kupu-kupu
Awal dengan sudut pandang liar yang tak disukai bahkan menjijikkan
Tak berhenti berjuang sampai keindahan menjadi saudara kembarnya
menyatu dalam dimensi yang tak terbatasi ruang dan waktu
Berbagi kebahagiaan pada tiap jiwa yang dititipkan di sekelilingnya
Menyenangkan…
Lalu tiba-tiba satu titik memaksaku tinggal sejenak
Ada pula sekumpulan orang yang bagiku tak layak ada di situ
Jiwaku menekan untuk mencari jawaban dari tiap pertanyaan yang hampir-hampir memenuhi ruang otakku
Keindahan itu berartikah bagi sang pencari kepuasan dunia?
Apakah artinya kebahagiaan bagi para budak syahwat?
Lalu yang kulakukan ini apa?
Dan apakah-apakah lain …yang terhela dan bergulung seperti benang mengacaukan kerja keras saraf kepalaku
Sejuta cerita bahagia khayalan itu menjadi kenyataankah ketika aku kembali?
Sampai-sampai aku takut membuka mata…
Melihat kenyataan yang tak sesuai pengharapan
Kuteruskan mengembara bersama khayalanku, terus mencari dengan mata hati
Lalu kepada siapa aku membawa daftar pertanyaan-pertanyaan tadi?
Pertanyaan yang hampir-hampir mewarnai hatiku semerah saga
Perih…
Hampir-hampir kata menyerah berhasil membujuk untuk tak lagi melesat seperti kijang di belantara dunia
Namun akhirnya keperihan tak datang sendiri
Ada yang mengekor dibelakangnya, bahkan lebih banyak lagi
Layaknya daun yang gugur dari tangkainya karena telah tiba waktunya
keperihan pun pergi
Aku bahkan mendapatkan jawaban lebih dari yang kutanyakan
Allah…
Satu kata yang lebih dari cukup buatku
Muara semua itu adalah Dia
Yang tak pernah letih mengurus semua ciptaan-Nya
Tak pernah melewatkan sekecil apapun keletihan dan keperihan yang menempeli jejak langkah pejuang-pejuang Nya
Sayangnya terkadang kita tak pernah menyadari ‘keterlambatan’ yang indah dari Allah
Memutuskan diri berhenti padahal ada satu lembaran lagi yang seharusnya dibuka sampai ia menemukan apa yang ia butuhkan
Bukan yang ia inginkan…
Berputus asa dari kasih sayang-Nya saat ia hampir menuai buah perjuangannya
Negeri impian sesungguhnya ada dan bermula dalam jiwa tiap hamba
Berdetak bersama jantungnya dan mengalir bersama darahnya
Ada ketika ia meletakkan tahta Allah lebih tinggi dari segalanya
Terurai bersama derasnya alir doa di setiap sujud panjangnya
Berbagi kesejukan kasih-Nya pada tiap raga yang Allah titipkan ruh di dalamnya
Menjaga cinta hakiki yang ia punya lebih dari apapun jua
Dan… mahkota kebahagiaan nyata mulai mekar di jiwa
Memeluk erat tiap anugerah dari-Nya
Membawa jiwa menuju kerinduan bertemu Kekasih Sejatinya
Menghantarkan perjuangan sebagai mahar surga-Nya yang kekal
Dia lah Allah…
PEMIMPIN HARAPAN UMAT
Sudah saatnya bangsa indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang dapat membawa perubahan pada nasib bangsa ini. bangsa indonesia
membutuhkan pemimpin yang bisa membawa bangsa ini keluar dari sistem buruk kapitalisme yang sedang membelenggu bangsa ini.
Karena sistem yang diterapkan sekarang inilah yang sebenarnya membuat negarai ini berada dalam kubangan lumpur, bahkan bukan hanya negara indonesia saja yang mengalami nasib seperti ini, melainkan semuan negeri-negeri yang menerapkan sistem kufur kapitalisme, walaupun sebagian besar rakyatnya menganut agama islam.
Hukum yang berlaku dalam sistem kapitalisme adalah hukum rimba, yang kuat dialah yang akan menguasai yang lemah, dengan kata lain yang punya modal besar lah yang akan mengalami kejayaan, sedangkan kaum melarat menjadi bahan mainan bagi mereka.
Dalam sistem ini juga, alur hak dan kewajiban dalam kepemimpinan mengalami penyimpangan, yang seharusnya kesejahteraan menjadi hak bagi rakyat, namun ternyata menjadi milik para pemilik modal yang sebelumnya telah mendanai kampanye calon pemimpin. sehingga dengan segala kebijakan busuknya yang katanya mengatasnamakan kepentingan rakyat,mereka sebenarnya menjadi jongos bagi para kaum kapitalis.
Sudah saatnya kaum muslimin mempunyai sosok pemimpin yang benar-benar memperhatikan kesejahteraan rakyat,bukan malah menjadi antek-antek para kaum kapitalis. Tentunya, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang diibaratkan kalau dalam hadis,adalah sebagai penggembala atau pelayan dan rakyat adalah sebagai gembalanya atau yang dilayaninya.Sehingga hak dan kewajiban dalam kepemimpinan pun menjadi jelas, rakyat terpenuhi haknya dan kewajiban mentaati pemimpin pun terlaksana.
Ternyata persoalanya tidak sampai disitu, yang dibutuhkan rakyat,tidak hanya pemimpin yang baik, tapi sistemnya juga harus baik, karena soerang pemimpin yang baik, akan menjadi baik ketika berada dalam sistem yang baik. Dan pemimpin yang baik adalah yang mau merubah sistem yang busuk dengan sistem yang baik,dengan kata lain seorang pemimpin harus bisa mengganti sistem kapitalisme ini dengan sistem islam.
Selasa, 07 April 2009
Harapan, Perencanaan, Ikhtiar dan Do’a
Harun Al-Rasyid berkata, “Saya tidak bangga dengan keberhasilan yang tidak saya rencanakan, sebagaimana saya tidak akan menyesal atas kegagalan yang terjadi di ujung segala usaha maksimal.”
Seringkali kita merencanakan gerak tetapi hasilnya tak sesuai dengan yang kita inginkan. Dan itu adalah hal yang biasa. Karena bukan kita yang menentukan hasil. Seberapa matangpun perencanaan, hasilnya tetap tak bisa kita pastikan. Kita hanya bisa merencanakan yang terbaik dan ikhtiar yang optimal untuk melaksanakannya.
Ada yang berkata, kita akan lebih bebas bila tanpa perencanaan, tapi yakinlah, itu akan semakin menjauhkan kita dari hasil yang ingin kita capai. Perencanaan yang matang, ikhtiar yang optimal adalah sebuah keyakinan yang kuat akan keinginan yang membara dalam harap akan ridho-Nya.
Dan ingatlah, jalankan dengan optimal dengan melihat perencanaan matang yang telah dibuat. Maka tak ada penyimpangan gerak dari perencanaan itu. Alternatif rencana hanya bisa kita jalankan bila keadaan itu sangat, sangat mendesak. Dan nilailah keadaan dengan akal sehat dan melihat perencanaan awal yang telah dibuat. Maka apa pun hasilnya…kita takkan kecewa karena ikhtiar kita yang optimal dan perencanaan yang matang dan yakin akan ganjaran yang akan Allah berikan karena niat dan ikhtiar kita, apapun hasilnya…
Perjalanan yang dimulai dengan kesigapan tak berarti bila kelak kau mengeluh dan berhenti….
Impian yang begitu indah tak berarti bila kau hanya bermimpi dan tak menjalani…..
Perngorbanan takkan pernah terhenti, bahkan ketika kau anggap tak ada lagi yang bisa dikorbankan…
Perjuangan takkan pernah henti, bahkan ketika kakimu tlah terhenti, tak mampu lagi melangkah…
Tenaga jiwa, kepalan semangat, simbah peluh dan darah memerlukan kebersihan dan keikhlasan hati para pemiliknya…
Maka segarkan slalu hati, luruskan slalu niat, hingga titik akhir…. yang membuat kau takkan pernah menyesal…karena telah memilih jalan ini….jalan berat ini….
Mata air telaga takkan bisa menghilangkan haus hanya dengan dilihat, apalagi dibayangkan….
Bekali tiap langkah dengan impian, keyakinan, persiapan dan perhitungan. Boleh jadi kita takkan sampai pada tujuan….tetapi bersyukurlah atas proses dan ikhtiar yang dijalani bukanlah sebuah pengkhianatan tujuan…
Yaa Allah bila memang ini jalannya untuk mengdapat ridho-Mu, maka jadikanlah kami orang-orang yang teguh melalui jalan ini…
Yaa Allah bila jalan ini dipenuhi ribuan duri yang tajam, maka kuatkanlah kaki hamba untuk menapakinya….walau terluka, berkesimbah dalam ridho-Mu…..
Yaa Allah walau jalan ini belum pernah kami melihat ujungnya, jadikanlah kami sebagai penghuninya….
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS 9:105)
Wallahua’lam bi showab.