Senin, 17 Agustus 2009

Menyingkap Rahasia Madu


Penelitian menunjukkan, madu terbukti dapat menyembuhkan infeksi kulit. Al-Quran menjadikannya sebagai nama salah satu Surat

Hidayatullah.com--Betapa manisnya! Itu terlihat oleh para peneliti yang telah berhasil menemukan emas---pada cairan keemasan---dalam penelitian mereka di Unit Penelitian Madu Waikato, di Universitas Waikato, Selandia Baru, prihal menggunakan madu pada luka. Hasil Penelitian mengkonfirmasikan bahwa madu telah lama digunakan dalam pengobatan tradional, lebih manjur dibandingkan dengan antibiotik dan bebas dari efek samping.

Petrus Molan, Ph.D., Profesor biokimia, ketua Unit Penelitian Madu Waikato, menceritakan tentang seorang pasien dengan luka yang telah dideritanya selama 20 tahun. Terkena infeksi semacam bakteri yang melawan antibiotik, seorang perempuan berkewarganegaraan Inggris dimana pada bagian ketiaknya secara terus menerus mengeluarkan nanah dalam jangka waktu lama. Kelihatan tidak ada yang dapat menolongya, dan mencegah dari rasa sakit yang ia derita.

Di bulan Agustus 1999, dia membaca artikel tentang penyembuhan luka dengan madu. Dia mendesak dokternya untuk mempergunakan madu sebagai obat untuk lukanya, dan sebulan kemudian lukanya telah sembuh total. Dia telah dapat bekerja dari sejak itu.

Dalam test lain, ilmuwan menggunakan berbagai variasi madu terkenal, seperti misalnya madu manuka dari Selandia Baru dan madu jelly bushdari Australia. Keduanya tersedia untuk tujuan pengobatan; sayangnya, rumah sakit jarang menggunakannya. Penelitian Sydney mengkorfirmasi bahwa madu dapat secara efektif menggantikan antibiotik pada luka. Seperti kata seorang dokter, "Madu dapat dipertimbangkan sebagai obat alternatif."

Beberapa studi medis, termasuk satu dari para peneliti di Universitas Sydney, sudah membuktikan kemanjuran madu dalam menyembuhkan luka dan mengobati infeksi ketika digunakan secara benar.

Para ilmuwan Sydney mengkorfirmasikan sesuatu yang telah dikenal selama ribuan tahun: Madu mempunyai berbagai macam khasiat dalam penyembuhan. Beberapa botol "cairan-keemasan" obat mujarab untuk berbagai macam penyakit telah ditemukan di sebuah makam Pharaoh. (Sebuah harta karun, digali ribuan tahun yang lalu, telah ditemukan dalam keaadan masih sangat segar)

Orang-orang Yunani Kuno sepanjang zaman telah menggunakan madu. Sampai Perang Dunia II, madu, sebagai penangkal berbagai macam bakteri, telah digunakan dalam perawatan luka. Dengan kedatangan penisilin dan antibiotik lainnya di abad 20, berbagai macam manfaat pengobatan madu mengalami kemunduran. Tetapi itu mungkin akan segera berubah.

Para peneliti Australia telah berhasil menyingkap sebuah kemungkinan tentang penjelasan akan kemanjuran antimicrobial dari madu. Dr. Shona Blair dari Universitas Pengobatan Sydney telah menemukan bahwa penggunaan madu cair pada sebuah luka berair memproduksi peroksida hidrogen, suatu anti-bakteri yang terkenal. Kelompok Peneliti telah lebih lanjut mendemonstrasikan bahwa madu sangat kuat ketika berhadapan dengan methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA).

Para ilmuwan masih mencoba untuk mendapatkan sumber dari madu pembunuh kuman dan berspekulasi bahwa salah satu dari komponen madu, methylglyoxal, merubah komponen lain di dalam madu, dengan demikian dapat mencegah bakteri dari pemicu perkembangan baru, madu bersifat daya tahan. Sejauh ini, riset spesifik mereka telah menggunakan hasil panen madu dari lebah yang sering berada di semak pohon teh dan pohon semak belukar dan pohon jenis Leptospermum, yang tumbuh di Australia dan daerah perbatasan.

Madu adalah juga dikenal untuk mengurangi edema.

Edema dapat meningkatkan pembusukan luka kulitpurpuric yang mungkin sampai ke kulit necrosis.

Madu yang digunakan pada luka kulit meningococcalmungkin akan sangat membantu.

Tambahan, laporan tentang efektivitas madu dalam perawatan ganggren (sejenis penyakit luka membusuk) bisa mendapatkan manfaat dalam mengurangi jumlah amputasi dari keracunan darah pada kulit meningococcal.

Ketika digunakan pada luka bakar, madu dapat mengurangi bekas luka. Saya dapat membuktikan dari pengalaman saya sendiri. Selama tugas saya sebagai tukang masak baru-baru ini, kecerobohan saya muncul mengakibatkan jari tangan saya melepuh berair. Walaupun saya tidak mempunyai madu lebah produk dari semak belukar pohon teh, saya mengoleskan madu fireweed pada bagian yang melepuh. Luka bakar reda dalam beberapa menit, dan pagi berikutnya bagian yang melepuh telah hilang tanpa bekas.

Jangan pernah meremehkan kekuatan penyembuhan yang diperoleh dari alam, seperti cara pengobatan rakyat tradisional yang telah teruji oleh waktu-dalam hal penggunaan madu misalnya, yang telah digunakan ribuan tahun.

sumber: www.hidayatullah.com

Read More......

Jilbab Bukan Sekedar Simbol



NEW JERSEY--Rowaida Abdulaziz, 17 tahun, merasa mendapat berkah dengan mengenakan jilbab dan melihat pakaian sederhana yang menutupi rambut dan tubuhnya sebagai sumber kebebasan.

"Saya benar-benar merasa nyaman," kata Rowaida yang merupakan siswi SMA di New Jersey kepada CNN Rabu (12/8), kemarin, seperti dilansir Islamonline.net.

Wanita berdarah asli Mesir ini secara sukarela memilih untuk mengenakan jilbab. "Ibu saya mengatakan bahwa seorang gadis itu ibarat permata. Ketika anda memiliki sesuatu yang sangat berharga, maka Anda akan menyembunyikannya. Anda pasti ingin memastikan benda berharga milik Anda tersebut aman sampai harta tersebut telah siap untuk ditemukan."

Rowaida yakin jilbab telah membawa dimensi yang indah dalam kehidupannya. "Ketika Anda memutuskan untuk mengenakannya, hal itu akan membuka mata Anda. Dan akan membuat anda ingin mengeksplorasi keyakinan beragama Anda," kata dia dengan antusias. "Saya dulu merasa seperti ada sesuatu yang kurang dan sekarang saya telah lengkap sepenuhnya."

Hal senada disampaikan Sarah Hekmati yang pertama kali menggunakan Jilbab pada umur 15 tahun serta besar di Detroit, Michigan. Dia mengatakan bahwa keputusan menggunakan Jilbab telah membebaskan dirinya.

Sementara remaja seusianya sedang berjuang dalam kondisi yang kritis dalam kehidupan mereka, dia telah menemukan jati dirinya sebagai seorang Muslimah. "Jilbab telah memberi saya sebuah identitas," kata Sarah perempuan berdarah Iran.

"Saya sangat menyukai tujuan di balik penggunaan Jilbab--pakaian yang menutup seluruh tubuh wanita sehingga laki-laki akan mengenali dirinya dari cara berpikirnya bukan dari tubuhnya."

Islam memandang Jilbab sebagai pakaian yang wajib dikenakan wanita, bukan sekedar memamerkan simbol agama yang sesorang anut.

Mitos dalam Memakai Jilbab
Namun terkadang Jilbab menyebabkan para Muslimah yang mengenakannya menjadi pusat perhatian.
"Anda kadang-kadang seperti berada di kebun binatang: terkurung dalam kandang, dan orang lain memandang dengan penuh stereotip, prasangka dan anggapan pada sebuah parade untuk di analisa, dihancurkan dan dibangun kembali," kata Randa Abdul Fatah, Muslimah kelahiran Australia dari orangtua keturunan Palestina dan Mesir.
Sarah, Muslimah Detroit, mengatakan terkadang dirinya mendapat tatapan sinis dan penuh kemarahan dari orang-orang yang memandang dirinya seakan-akan seorang teroris. Yang lain memandang dengan penuh keheranan dan bertanya kepadanya mengapa dirinya menutup rambutnya. "Satu orang bertanya kepada saya, apakah saya alergi terhadap matahari?" imbuh Sarah.
Rowaida, Siswi SMA New Jersey, juga memiliki mitos masyarakat terhadap jilbab yang dia kenakan. Namun dia mengatakan yang paling menjengkelkan dari stereotip tersebut adalah ketika masyarakat berasumsi bahwa orangtuanya menekan dia untuk menggunakan Jilbab.
"Ini bukan penindasan, ini bukan berarti saya menyetujui degradasi--ini semua tentang kepedulian terhadap diri sendiri," jawan dia selalu terhadap pertanyaan mereka. "Ini melambangkan kecantikan bagi saya." imbuh dia. iol/taq

Sumber : http://republika.co.id/

Read More......

Minggu, 26 Juli 2009

How to Convert to Islam and Become a Muslim

The word “Muslim” means one who submits to the will of God, regardless of their race, nationality or ethnic background. Becoming a Muslim is a simple and easy process that requires no pre-requisites. One may convert alone in privacy, or he/she may do so in the presence of others.

If anyone has a real desire to be a Muslim and has full conviction and strong belief that Islam is the true religion of God, then, all one needs to do is pronounce the “Shahada”, the testimony of faith, without further delay. The “Shahada” is the first and most important of the five pillars of Islam.



With the pronunciation of this testimony, or “Shahada”, with sincere belief and conviction, one enters the fold of Islam.

Upon entering the fold of Islam purely for the Pleasure of God, all of one’s previous sins are forgiven, and one starts a new life of piety and righteousness. The Prophet said to a person who had placed the condition upon the Prophet in accepting Islam that God would forgive his sins:

“Do you not know that accepting Islam destroys all sins which come before it?” (Saheeh Muslim)

When one accepts Islam, they in essence repent from the ways and beliefs of their previous life. One need not be overburdened by sins committed before their acceptance. The person’s record is clean, and it is as if he was just born from his mother’s womb. One should try as much as possible to keep his records clean and strive to do as many good deeds as possible.

The Holy Quran and Hadeeth (prophetic sayings) both stress the importance of following Islam. God states:

“...The only religion in the sight of God is Islam...” (Quran 3:19)

In another verse of the Holy Quran, God states:

“If anyone desires a religion other than Islam, never will it be accepted of him; and in the Hereafter, he will be in the ranks of those who have lost (their selves in the Hellfire).” (Quran 3:85)

In another saying, Muhammad, the Prophet of God, said:

“Whoever testifies that there in none worthy of being worshipped but God, Who has no partner, and that Muhammad is His slave and Prophet, and that Jesus is the Slave of God, His Prophet, and His word[1] which He bestowed in Mary and a spirit created from Him; and that Paradise (Heaven) is true, and that the Hellfire is true, God will eventually admit him into Paradise, according to his deeds.” (Saheeh Al-Bukhari)

The Prophet of God, may the blessing and mercy of God be upon him, also reported:

“Indeed God has forbidden to reside eternally in Hell the person who says: “I testify that none has the right to worship except Allah (God),’ seeking thereby the Face of God.” (Saheeh Al-Bukhari)
The Declaration of the Testimony (Shahada)

To convert to Islam and become a Muslim a person needs to pronounce the below testimony with conviction and understanding its meaning:

I testify “La ilah illa Allah, Muhammad rasoolu Allah.”

The translation of which is:

“I testify that there is no true god (deity) but God (Allah), and that Muhammad is a Messenger (Prophet) of God.”

To hear it click here or click on “Live Help” above for assistance by chat.

When someone pronounces the testimony with conviction, then he/she has become a Muslim. It can be done alone, but it is much better to be done with an adviser through the “Live Help” at top, so we may help you in pronouncing it right and to provide you with important resources for new Muslims.

The first part of the testimony consists of the most important truth that God revealed to mankind: that there is nothing divine or worthy of being worshipped except for Almighty God. God states in the Holy Quran:

“We did not send the Messenger before you without revealing to him: ‘none has the right to be worshipped except I, therefore worship Me.’” (Quran 21:25)

This conveys that all forms of worship, whether it be praying, fasting, invoking, seeking refuge in, and offering an animal as sacrifice, must be directed to God and to God alone. Directing any form of worship to other than God (whether it be an angel, a messenger, Jesus, Muhammad, a saint, an idol, the sun, the moon, a tree) is seen as a contradiction to the fundamental message of Islam, and it is an unforgivable sin unless it is repented from before one dies. All forms of worship must be directed to God only.

Worship means the performance of deeds and sayings that please God, things which He commanded or encouraged to be performed, either by direct textual proof or by analogy. Thus, worship is not restricted to the implementation of the five pillars of Islam, but also includes every aspect of life. Providing food for one’s family, and saying something pleasant to cheer a person up are also considered acts of worship, if such is done with the intention of pleasing God. This means that, to be accepted, all acts of worship must be carried out sincerely for the Sake of God alone.

The second part of the testimony means that Prophet Muhammad is the servant and chosen messenger of God. This implies that one obeys and follows the commands of the Prophet. One must believe in what he has said, practice his teachings and avoid what he has forbidden. One must therefore worship God only according to his teaching alone, for all the teachings of the Prophet were in fact revelations and inspirations conveyed to him by God.

One must try to mold their lives and character and emulate the Prophet, as he was a living example for humans to follow. God says:

“And indeed you are upon a high standard of moral character.” (Quran 68:4)

God also said:

“And in deed you have a good and upright example in the Messenger of God, for those who hope in the meeting of God and the Hereafter, and mentions God much.” (Quran 33:21)

He was sent in order to practically implement the Quran, in his saying, deeds, legislation as well as all other facets of life. Aisha, the wife of the Prophet, when asked about the character of the Prophet, replied:

“His character was that of the Quran.” (As-Suyooti)

To truly adhere to the second part of the Shahada is to follow his example in all walks of life. God says:

“Say (O Muhammad to mankind): ‘If you (really) love God, then follow me.’” (Quran 3:31)

It also means that Muhammad is the Final Prophet and Messenger of God, and that no (true) Prophet can come after him.

“Muhammad is not the father of any man among you but he is the Messenger of God and the last (end) of the Prophets and God is Ever All-Aware of everything.” (Quran 33:40)

All who claim to be prophets or receive revelation after Muhammad are imposters, and to acknowledge them would be tantamount to disbelief.

We welcome you to Islam, congratulate you for your decision, and will try to help you in any way we can.

Footnotes:

[1] God created him through His statement, “Be!”

Source:click here

Read More......

Sabtu, 04 Juli 2009

Persiapan Menuju Ramadhan


Bulan Sya’ban secara urutan bulan hijriah jatuh setelah bulan Rajab dan sebelum bulan Ramadhan. Dalam riwayat Imam Bukhari, Aisyah ra. menceritakan, bahwa Rasulullah saw. selalu memperbanyak puasa di bulan Sya’ban? Bahkan dalam riwayat lain dikatakan bahwa tidak ada bulan melebihi bulan Sya’ban di dalamnya Rasulullah saw. berpuasa. Dalam hadits lain disebutkan bahwa Nabi saw. berpuasa mayoritas hari-hari bulan Sya’ban. Mengapa?
Ada beberapa rahasia di antaranya:
Pertama, puasa adalah kebutuhan fitrah manusia.

Karena itu Allah mewajibkan hamba-hamba-Nya berpuasa. Dalam surah Al Baqarah 183 Allah swt. menyebutkan bahwa puasa tidak hanya diwajibkan kepada umat manusia tertentu tetapi juga kepada umat manusia terdahulu. Ini menunjukkan bahwa puasa merupakan ibadah yang tidak bisa tidak harus dilakukan. Ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa dengan puasa pencernaan seseorang akan istirahat dari rasa lelah yang sekian lama terus menerus digunakan untuk mengolah makanan. Maka semakin sering seseorang berpuasa ia akan semakin sehat. Sebab kemungkinan timbulnya penyakit yang seringkali disebabkan oleh makanan akan tercegah secara otomatis ketika ia berpuasa.
Kedua, bulan Ramadhan adalah bulan diwajibkannya puasa bagi orang-orang beriman. Jadi pengertian ayat: kutiba alaikumush shiyaam itu maksudnya untuk bulan Ramadhan. Karena itu dalam sebuah hadits Nabi menegaskan bahwa di bulan Ramadhan diwajibkan atas orang-orang beriman berpuasa. Adalah suatu persiapan yang sangat strategis ketika Rasulullah selalu memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Ibarat sebuah turnamen, bulan Ramadhan adalah ajang perlombaan beramal saleh, cerminan ayat: “fastabiqul khairaat (berlomba-lombalah dalam kebaikan)” Al Baqarah:148. Karena itu sebelum masuk Ramadhan hendaklah melakukan persiapan-persiapan terlebih dahulu dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Kita semua tahu bahwa para peserta turnamen pasti melakukan persiapan sebulan dua bulan sebelumnya. Itulah rahasia mengapa Rasulullah saw. memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Agar tidak loyo selama bulan Ramadhan. Agar lebih maksimal melaksanakan ibadah-ibadah Ramadhan yang semuanya saling melengkapi untuk mengantarkan kepada ketakwaan.
Ketiga, ibadah puasa adalah ibadah menahan nafsu. Suatu perjuangan yang senantiasa harus dilakukan oleh orang-orang beriman. Dalam surah An Nazi’at:40 Allah swt. menjelaskan bahwa jalan ke surga adalah dengan upaya terus-menerus membangun rasa takut kepada Allah dan menahan nafsu. Mengapa? Sebab Setan berkerja terus menerus, siang dan malam untuk menjerumuskan manusia ke dalam dosa-dosa. Kerja keras setan ini tidak bisa tidak menuntut kita untuk bekerja keras juga guna mengimbanginya. Orang yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat, tentu akan selalu waspada dari godaan setan. Caranya dengan banyak berpuasa. Semakin sering berpuasa, semakin sempit jalan-jalan setan untuk menggoda. Sebab dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa setan seringkali masuk melalui makanan. Maka semakin banyak makan, semakin mudah digoda setan. Karenanya orang yang kekenyangan akan selalu malas beribadah.
Keempat, Rasulullah saw. adalah contoh pribadi berakhlak mulia. Allah berfirman: “Wainnaka la’alaa khuluqin adhiim (Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar mempunyai akhlaq yang agung)” Al Qalam:4. Maka setiap yang dicontohkan Rasulullah saw. pasti baik untuk kemanusiaan di dunia maupun di akhirat. Tidak ada perbuatan yang dilakukan Rasulullah saw. kecuali membawa manfaat bagi kehiduapan manusia jika diikuti. Dan bila kita teliti secara seksama, menejemen modern yang mengantarkan munculnya negara-negara maju dan perusahaan-perusahaan bisnis kelas dunia, di dalamnya akan kita temukan nilai-nilai universal yang pada dasarnya itu adalah bagian dari ajaran Islam yang dibawa Rasulullah saw. Maka dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, itu sungguh sangat baik dan bermanfaat, tidak saja di dunia tetapi juga di akhirat.
Kelima, adapun mengenai amalan di pertengahan bulan Sya’ban (nisfu Sya’ban), sekalipun ada sebagian hadits yang dianggap hasan oleh para ulama hadits, tetapi terpenting sebenarnya adalah memperbanyak puasa selama bulan Sya’ban, bukan mengkhususkannya pada pertengahan saja.
Imam An Nasa’i meriwayatkan sebuah hadits dari Usamah bin Zaid tentang rahasia memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, Nabi bersabda: “Bulan Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan oleh banyak orang, karena itu terjepit antara Rajab dan Ramadhan. Padahal ia adalah bulan di angkatnya amal manusia, maka aku suka ketika amalku diangkat aku sedang berpuasa.” Wallahu a’lam bish shawab.
dakwatuna.com

Read More......

Kamis, 14 Mei 2009

Perjalan Kepengurusan BKMI UNTAN Periode 2008/2009





Read More......

Rabu, 06 Mei 2009

UNTUKMU YANG TAK LELAH BERHARAP


Islam itu indah sahabat…
Lebih indah daripada pelangi di ujung nirwana selepas hujan reda
Lebih menakjubkan daripada 7 keajaiban dunia
Lebih mengagumkan daripada berkelana di antara bintang-bintang di luar angkasa sana
Lebih berharga dari tiap perhiasan yang ada di jagad raya ini, bahkan jauh lebih berharga untuk dibandingkan dengan hal-hal semacam itu
Ia teramat sangat indah hingga generasi terbaik dari umat ini menghiasinya dengan darah kesyahidan di medan Badar, Uhud dan medan-medan lain

Untukmu yang tak lelah berharap…
Kepadamu lah Rasulullah mewariskan perjuangan ini
Di pundakmu lah beban dakwah ini diamanahkan
Di tanganmu lah harapan terwujudnya peradaban madani
Biarkan dakwah menghidupi ruhmu, yang menjagamu agar tak menderita kelak
Jadikan dakwah ini sebagai pembeda antara kaum yang diberkahi dan kaum pendusta ayat-ayat Nya

Untukmu yang tak lelah berharap…
Sudahkah kau dengar dentuman yang menghantarkan para syuhada menemui Rabb-nya?
Sudahkah kau lihat wajah-wajah mungil yang berdiri tegak tak tergoyahkan meski senapan yahudi laknatullah kerapkali dihadapkan ke kepalanya? Berbekal batu dan dengan lantang berteriak “Khaibar-Khaibar ya, Yahud! Ja'isyu Muhammad Saufa Ya'uud!”
Sudahkah kau lihat sorot mata ketegaran dan kebanggaan para ibu yang merelakan buah hatinya menjadi mujahid, menanamkan jiwa intifadah dan rindu syahid dalam dada anak-anak itu?

Untukmu yang tak lelah berharap…
Aku bangga padamu yang sanggup mengorbankan kepentinganmu demi merencanakan manuver-manuver dakwah
Aku bangga padamu yang tetap tegar meski hari-hari yang kau lalui penuh dengan ujian dan rintangan
Aku bangga padamu yang tetap bisa tersenyum meski masalah tak bosan menghampirimu, malah dengan lapang dada memberikan tausiyah untuk menguatkan saudaramu yang lain
Aku bangga padamu yang menghabiskan sepertiga malam terakhirnya untuk bersimpuh pada Rabb-Nya penuh deraian air mata pengharapan
Aku bangga pada padamu yang kerap melantunkan al-ma’tsurat dan menghafalkan surat cinta dari Allah sementara teman-temanmu yang lain bersemangat menyenandungkan nasyid atau bahkan lagu-lagu jahiliyah

Untukmu yang tak lelah berharap…
Teruslah berharap agar Allah akan memenangkan perjuangan ini, meski kau tak sempat merasakannya

“Dan sesungguhnya orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami pasti akan kami tunjukkan jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Ankabut: 69).

Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu. Telah berjumpa dalam taat pada-Mu. Telah bersatu dalam da'wah pada-Mu. Telah terpadu dalam membela syari'at-Mu. Kokohkanlah, Ya Allah ikatannya, kekalkan cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal pada-Mu. Nyalakanlah hati kami dengan ma'rifat kepada-Mu. Matikanlah ia dalam syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong...

Read More......

Selasa, 05 Mei 2009

TAK SESULIT YANG ANDA BAYANGKAN


Di sebuah ladang terdapat sebongkah batu yang amat besar. Dan seorang
petani tua selama bertahun-tahun membajak tanah yang ada di sekeliling
batu besar itu. Sudah cukup banyak mata bajak yang pecah gara-gara
membajak di sekitar batu itu. Padi-padi yang ditanam di sekitar batu
itu pun tumbuh tidak baik.

Hari ini mata bajaknya pecah lagi. Ia lalu memikirkan bahwa semua
kesulitan yang dialaminya disebabkan oleh batu besar ini. Lalu ia
memutuskan untuk melakukan sesuatu pada batu itu. Lalu ia mengambil
linggis dan mulai menggali lubang di bawah
batu. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa batu itu hanya
setebal sekitar 6 inchi saja. Sebenarnya batu itu bisa dengan mudah
dipecahkan dengan palu biasa. Kemudian ia lalu menghancurkan batu itu
sambil tersenyum gembira. Ia teringat bahwa semua kesulitan yang di
alaminya selama bertahun-tahun oleh batu itu ternyata bisa diatasinya
dengan mudah dan cepat.

Renungan:
Kita sering ditakuti oleh bayangan seolah permasalahan yang kita
hadapi tampak besar, padahal ketika kita mau melakukan sesuatu,
persoalan itu mudah sekali diatasi. Maka, atasi persoalan anda
sekarang. Karena belum tentu sebesar yang anda takutkan, dan belum
tentu sesulit yang anda bayangkan.

Read More......